Jumat, 02 November 2012



Si Sulung Dan Si Bungsu
Oleh : Ismail syakban, SM Al-Minang Kabawy
Pertama, Sulung dan bungsu
Pada suatu desa di Sulit Air, hiduplah suatu keluarga yang sederhana, keluarga yang tinggal di desa Linawan Ilir itu terdiri dari ayah, ibu, dan dua anaknya (Bungsu dan Sulung) keluarga ini hidup dengan sederhana, bahagia, damai dan tentram. Kehidupan sehari-hari keluarga ini juga sederhana, ayah yang kesehariannya menghabiskan waktu untuk ke ladang yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya dan ibu membantu-bantu ayah kesawah dan keladang. Sedangkan si Bungsu dan si Sulung masing-masing berumur enam (6) dan delapan (8) tahun, sekarang si Sulung duduk di bangku kelas 1 SDN 14 Ganting Dodok Sulit Air, dan si Bungsu masih mengikuti ibu dan ayah kesawah dan keladang, setiap sepulang sekolah si sulung menghabiskan waktu untuk mengembala si Pengka (nama kambingnya).
Dari hari ke hari keluarga yang sederhana ini hidup dengan bahagia tanpa ada masalah, sang bapak mengajarkan anaknya menjadi anak yang shaleh, baik, suka menolong, dan juga kedua orang tua ini memesankan kepada anaknya agar meneruskan pendidikan sampai sekolah yang setinggi-tingginya, meski apapun yang terjadi.
“Nak…hanya kalian yang akan melanjutkan perjuangan ibu/bapak kalian ini, seandainya nanti ibu/bapak telah tiada, kalian harus bisa jaga diri kalian sendiri, mandiri dan ibadah jangan kalian tinggalkan sekolah dan usahakanlah untuk melanjutkan sekolah, agar kalian menjadi orang yang berguna bagi orang banyak..” Itulah bunyi pesan yang dikatakan oleh sang ayah kepada si sulung yang masih berumur 8 tahun  itu.
“emangnya ibu dan bapak mau kemana??” jawaban si Sulung
“ibu dan bapak tidak akan kemana-kemana, insyaAllah ibu dan bapak akan selalu bersama kalian,,” Sambil memeluk si sulung ibu berkata demikian yang diiringi dengan curahan air mata, tak lama kemudian sang ayah menambahkan :
“sulung, kamu yang harus merawat dan menjaga adikmu…”
“nanti kalau ibu/bapak pergi, sulung dan bungsu jangan ditinggalkan ya..!!” itulah jawaban dari anak yang belum terlalu paham terhadap kata-kata orang tuanya itu.
Waktupun telah larut malam, waktunya si sulung tidurpun sudah datang, si ibu mendendangkan si sulung dengan lagu dan suara yang merdu, sehingga si sulung tertidur disebelah si bungsu, dengan penuh kasih sayang ibu mencium kedua anaknya kemudian ibupun tidur karena sudah kecapekan seharian bekerja diladang bersama ayah.
Malamnya, keluarga itupun tertidur lelap pulas, jarum jam terus berputar, sampailah pada waktu subuh ibu lebih dahulu bangun dan memasak nasi serta mempersiapkan sarapan pagi untuk anak dan suaminya. Dari kubah mesjid Baitullah yang tinggi dan jauh terdengar suara azan subuh berkumandang, sang ibupun membangunkan kedua anak dan suaminya untuk melakukan shalat subuh secara berjamaah. Setelah shalat subuh si sulung dan si bungsu mencium kedua tangan orang tuanya dan tak lupa ibu Munah juga mencium tangan suaminya, karena kebiasaan itulah yang membuat keluarga itu selalu hidup bahagia, damai, dan sejahtera.
Sambil menunggu waktu untuk bersiap-siap beraktifitas sang ayah mengajarkan kedua anaknya membaca Al-qur’an, sedangkan ibu menghidangkan masakan yang telah dibuatnya subuh-subuh tadi sebelumnya. Matahari pagi sudah mulai menampakkan dirinya, ibupun mulai mengurusi si sulung yang akan berangkat sekolah dan ayah hanya duduk sambil menikmati secangkir kopi buatan istri tercinta berdua dengan si bungsu.
Waktunya untuk sarapan pagi telah datang, dengan lahap si sulung makan masakan ibu Munah, sedangkan ayah dan sibungsu mengambil satu piring berdua karena sibungsu tidak mau makan kalau tidak berdua dengan sang ayah. Setelah sarapan pagi selesai si sulung berangkat sekolah dan tak lupa mencium tangan kedua orang tuanya.
“buk,, ayah,, saya berangkat sekolah ya…” sambil mencium tangan ayah dan ibunya.
“hati-hati ya nak, jangan nakal dan belajar yang rajin ya….” Pesan sang ibu.
“oh ya.. lung,, nanti jangan lupa gembalakan kambingmu ya……”
“ya ayah…..” ulung berangkat ya… “Assalamu’alaikum…..”
 “Wa’alaikumussalam….” Jawab kedua orang tua itu.
Setelah keberangkatan si sulung kesekolah, ibu dan ayah juga berkemas-kemas untuk pergi keladang, si bungsupun tidak ketinggalan untuk mengemaskan dirinya, si bungsu malah lebih dulu memasang topi, baju yang panjang lengannya dan telah memasang sandalnya serta telah menunggu didepan pintu.
Ibu Munah dan ayah telah selesai berkemas dan siap berangkat keladang, ibu Munah telah membungkus nasi, sambal dan tidak lupa mukenah untuk shalat karena berangkat pagi dari rumah pulangnya nanti sore saja. Makanya kalau mencari ibu Munah atau suaminya kerumahnya siang hari tidak akan bertemu, tapi kalau dilihat malam atau pagi sekali mereka pasti dirumah, jadi kalau tidak ada dirumah lihat keladang pasti ada.
Dalam perjalanan keladang, sibungsu bertanya pada ibunya..
mandeh… ambo bilo sekolah??” (buk… aku kapan sekolah??)
yuang… bungsu masih ketek baru, umua buyuang alun cukuik untuk masuak sekolah lo..” (nak… kamu masih kecil, umurmu belum cukup untuk masuk sekolah)
tapi buyuang nio sakolah lo caka uda ulung…” (tapi aku juga pengen sekolah seperti kak sulung)
iyo.. lai tau mandehnyo, tahun bisuak buyuang masuak sakolah yo.. jadi buyuang bisuak pai samo uda ulung yo… kini buyuang ikuik jo mandeh ajo dulu, tolong mandeh jo abak karajo di ladang yo nak..” (iya.. ibu ngerti kok, tahun besok kamu masuk sekolah ya.. jadi besok itu kamu berangkat bareng kakakmu, sekarang kamu ikut ibu saja dulu, tolong ibu dan ayah kerja diladang ya..)
asyik,,, awak sakolah. . . . . . “ (asyik… kita sekolah) dengan perasaan senang.
Itulah kata bungsu pada ibunya saking tidak sabar pengen masuk sekolah, setelah mendengar jawaban dari ibunya itu si bungsu senang sekali.
Tanpa terasa perjalananpun berakhir dan sampai di tujuan, ibu Munah dan si bungsu sampai di ladang dan mulai melubangi kalang yang akan ditanami kacang panjang, sedang sang ayah masih diperjalanan sambil menyandang cangkul di bahunya.
Jarum jam terus berputar, waktu terus berlalu tak terasa jam telah menunjukkan pukul 08.20 WIB, waktu segitu adalah waktu si sulung memasuki pelajaran sesi kedua di sekolah. Si sulung di sekolah sangat disayangi oleh guru, sulung rajin belajar dan selama dalam proses belajar nilainya paling tinggi terus, si sulung pinter dalam berhitung (penjumlahan dan pengurangan) sehingga setiap pertanyaan guru bisa dijawabnya dengan benar. Dalam masalah struktur keluarga si sulung juga jauh berbeda dengan murid-murid lainnya. Sulung berasal dari keluarga miskin yang keseharian dari orang tuanya adalah keladang dan kesawah. Berbeda dengan murid-murid yang lainnya, mereka berasal dari keluarga konglomerat, kelurga kaya sehingga mereka kesekolah memakai pakaian yang bagus, sedangkan si sulung berpakaian jelek, kusam dan sebenarnya pakaian yang tak layak untuk dipakai, tapi meskipun demikian otak si sulung disekolah sangat layak untuk dipakai serta si sulung tetap semangat untuk sekolah meski keadaannya demikian.
Meski keadaan sulung demikian, sulung tidak pernah pilih-pilih dalam mencari teman. Meskipun orang miskin atau kaya dimata sulung semua itu sama adalah sahabatnya semua dan teman-temannyapun juga seperti itu tidak pernah pilah-pilih dalam mencari teman. Si sulung karena kepintaran dan kebaikan hatinya, dia disenangi guru, teman-teman, ibu kantin dan masyarakat tak lupa orang tuanya sendiri.
Pada waktu bel pulang telah berbunyi semua muridpun berhamburan keluar kelas dan pulang kerumah masing-masing, dalam keasyikan berjalan sendiri si sulung dihampiri oleh dua orang temannya yang bernama Rizki dan Zainal.
Lung,, ang lansuang baliak?” (lung,, kamu lansung pulang?) Tanya Riki
iyo,, ambo torui baliak, ambo nak ngaluaan kambiang lansuang kabalo di ladang mandeh ambo….. mang baa duh?” (iya,, saya terus pulang kerumah, saya mau ngeluarin kambing dan saya mau gembalakan di ladang ibu saya…. Memangnya ada apa?)
Mendengar jawaban si sulung, zainal mengajak si sulung untuk melakukan sesuatu.
pai baronang wak yok!!” (berenang yuk!!)
baronang,,??kalian nio baronang dimaa??” (berenang,,??kalian mau berenang dimana??)
dibuak Nona, itu dibawah sakolah wak tu ha, tompek jalan ka Alai tu..” (di lubuk Nona, yang tempatnya dibawah sekolah kita itu, tempatnya di jalan menuju ke Alai itu loh..) Riki menjelaskan kepada si sulung.
oh… lubuak itu,,,,,, tapi ambo dak bisa ikuik loh, kalian ajo yang pai yo, ambo harus copek baliak, nak ngaluaan kambiang ambo, sory yo, kanlai dak baa lo kan??” (oh,, lubuk itu, tapi aku gak bisa ikut, kalian aja yang pergi aku harus lansung pulang harus mengeluarkan kambingku, maaf ya,,,, gak apa-apakan??)
yo,,, dak baa lo…..” (ya,, gak apa-apa kok..)
Setelah percakapan itu selesai sisulung meninggalkan Riki dan Zainal yang akan pergi berenang ke lubuak nona. Sulungpun lansung pulang kerumah, sesampai dirumah sisulung mengganti baju dan lansung membawa si pengka (kambingnya) keladang.
Seperti itulah kegiatan sisulung setiap hari, menghabiskan waktu setelah sekolah dengan gembala kambing. Sulung tidak pernah membantah dan melanggar kata-kata atau perintah dari kedua orang tuanya. Setelah melepaskan ikatan kambing dikandang, sisulung mengiringi kambingnya keladang.
“ussssss,,,, ussssss,,,,, ussssss,,,,,,”
“mbeeeeek,,, mbeeeeeek,,, mbeeeeek,,”
Setiap kambing dikeluarkan dia pasti jawab-jawaban dengan sulung, setiap sulung bilang “ussss,,,,”, sikambing menjawab “mbeeeek,,,,” sulung terus berjalan mengikuti lenggak lenggoknya kambing. Ketika sedang asyiknya menanam kacang, diladang ibu munah mendengarkan suara kambing, berarti sulung akan datang dengan kambingnya.
“pak, tuh sulung lah tibo jo kambiangnyo ha,,,” (pak,, itu sulung sudah datang sama kambingnya)
“suruah kobek an kambiangnyo tuh suruah nyo baronti  luh,, mungkin nyo tadi dirumah dak makan” (suruh talikan kambingnya, terus suruh dia istirahat dulu, mungkin dia tadi tidak makan dirumah)
Jawaban dari bapak sekaligus menyuruh istirahat si sulung, dan ajak makan bersama tapi biasanya sebelum makan, azan zhuhur pasti berkumandang. Dari jarak  yang lumayan jauh, dari lereng bukit ibu munah teriak kepada anaknya
“lung,,, lung,,, kobek an kambiang ang disitu ha,,, tu kamari lang,,” (lung,, lung,, ikatkan kambing disana, terus lansung kesini) teriak ibu pada sulung sambil menunjuk pada sawah yang kosong tempat mengikatkan kambingnya.
“yo,,, jadi” jawab sulung dengan suara teriak juga. (ya,, buk,,)
Sulungpun melakukan perintah dari ibunya, setelah selesai sulung menghampiri tempat pemberhentian itu, ayah dan sibungsu sudah menunggu disana. Sesampainya sisulung disana,,
“Assalamu’alaikum” sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
“wa’alaikum salam” jawab kedua orang tuanya.
Belum lama setelah sampai sisulung, terdengarlah suara azan dari kubah mesjid Darul Hikmah Lokuak, azan yag dikumandangkan oleh garim mesjid yang bernama Rusdi Arif. Sang ayahpun mengajak anak dan istrinya shalat berjamaah, dan ibupun mengajak kedua anaknya berwudhu, kemudia disusul oleh ayah. Merekapun melaksanakan shalat jamaah ditempat pemberhentian itu, akhirnya dari shalat jamaah mereka lanjutnya dengan makan siang bersama.
0------------0OOO0-----------0
Kedua, Nasehat orang tua
Siang hari itu, ketika matahari bersinar terang dan panas menyinari bumi jagat raya ini, di SDN 14 ganting dodok yang terletak di Jorong Bali Nagari Sulit Air itu terlihat sepi karena murid-murid sudah pada pulang kerumah masing-masing. Jika dari SD itu ditelusuri jalan menurun kebawah dibagian barat, maka telihat pemandangan yang indah, akan terlihat sebuah lereng yang hijau, daratan yang dipenuhi oleh sawah-sawah yang siap tanam. Pada kaki sawah itu akan terlihat sungai yang airnya mengalir deras, pada sungai itu terlihat sebuah lubuak. Lubuak yang terletak ditepi jalan menuju Alai itu disebut dengan Lubuak Nona. Kenapa disebut dengan lubuak nona? Asalnya dulu ada seorang nenek yang bernama nenek Nona tinggal dilereng bukit yang hijau itu, nenek itu adalah warga Alai, nenek itu yang selalu mandi, nyuci pakaian, piring dan selalu menggunakan air sungai sesuai dengan fungsinya. Dan aktifitas nenek itu dilihat oleh orang banyak yang selalu lewat dan lalu lalang dilubuak itu, sehingga sampai sekarang lubuak itu disebut dengan Lubuak Nona meskipun sekarang nenek Nona itu sudah meninggal dunia.
Dilubuak itu terlihat dua orang bocah yang sedang asyik berenang sambil main air, kedua bocah itu adalah temannya sulung yang mengajak berenang sebelumnya yaitu si Riki dan si Zainal. Keduanya saking asyiknya bermain dan berenang mereka telah lupa dengan shalat, dan mereka juga tidak menghiraukan bahwa orang tua mereka sedang risau Karena mereka belum juga pulang kerumahnya masing-masing.
“Nal,, main koja-kojaan wak lah !!!” (Nal,, main kejar-kejaran yuk !!!)
“pek lah, tapi syarate, awak harus dapek kapalo lah..!!” (ayo, tapi syaratnya kita harus dapat kepala ya,,!!)
ok,, peklah suit dulu, sia yang kalah nyo yang njadi lah,,,” (ok,, ayo suit dulu, siapa yang kalah dia yang ngejar duluan yach,,)
“setuju,,,,,,” semangat si Zainal.
Itulah yang dilakukan kedua anak itu, mereka main kejar-kejaran sambil berenang didasar air, setelah suit yang dimenangkan oleh Riki mereka berkejar-kejaran sambil tertawa ceria, tanpa menghiraukan orang tua mereka yang sedang sibuk dan pusing mencari mereka. Jika kita kembali kepada orang tua mereka, ibu Reni (ibunya Zainal) telah pusing dari tadi karena anaknya belum pulang-pulang juga, pada waktu hampir petang, ibu Reni menemui sulung, ingin menanyai si Zainal anaknya :
“Lung,,, jam bara ang baliak tadi??” (lung,, kamu tadi pulang jam berapa??)
“sabalun zuhur makwo, mang baa duhh………..” (sebelum zuhur, memangnya kenapa….)
“Lung, ado coliak zainal, anak uwo sampai kini alun juo baliak-baliak do..” (kamu lihat zainal gak, sampai sekarang dia belum balik-balik juga..)
“eee,,,,, eeee,,,,,,” . sulung kebingungan ingin mengatakan hal yang sebenarnya atau tidak pada ibu zainal.
“katoan eelah lung, dimanyo??” (bilang aja lung, dimana dia??)
“iyo makwo, tadi Zainal jo Riki pai baronang ka buak nona, tadi ambo diajaknyo tapi ambo dak pai lo, tu nyo pai baduo jo Riki ka sinan.” (iya, tadi Zainal dan Riki pergi berenang ke lubuak nona, tadi aku diajaknya tapi aku gak mau dan dia pergi berdua bersama Riki kesana)
Mendengar penjelasan dari sulung itu, ibu Reni lansung terkejut dan kaget sekali.
“Astaghfirullahal’azim…….. zainal.!!!! Mokasi yo lung,” (makasi ya lung,,)
“Yo makwo, samo-samo” (ya, sama-sama)
Setelah mendapatkan informasi, ibu Reni lansung baik kanan dan meninggalkan ladang si sulung. Ibu Munah yang jauh dari sulung dari situ memperhatikan apa yang sedang dibicarakan mereka berdua. Setelah ibu Reni pergi meninggalkan sulung ibu Munah kembali menanam kacang kelubang yang telah dibuat oleh ayah sulung, dan sulungpun melanjutkan permainannya bersama si bungsu.
Tidak jauh dari ladang si sulung, ibu Reni bertemu dengan ibu Piani (ibunya Riki) yang juga sedang pusing mencari anaknya yang belum balik-balik juga.
“Tek,,, tek,,, tek piani, kapai kama? Tagageh-gageh bana?” (buk,,, buk,,, buk piani, mau kemana? Kelihatannya buru-buru sekali?)
“ikoha,,, si Riki alun juo baliak-baliak dari tadi lai lo,,” (ini buk, Riki anakku belum balik dari tadi)
Mendengar kata dari ibu Piakni, buk Reni lansung menjelaskan kepada buk Piakni, tentang informasi yang didapatnya dari Sulung. Ibuk Reni telah menjelaskan panjang lebar semuanya kepada Buk Piakni. Mendengar penjelasan itu, ibu piakni lansung berkata :
“Masyaallah,,, Riki,,, ketek baru, lah pandai pai malala…….” (Riki, masih kecil, sudah bisa main jauh-jauh)
Lalu buk Piakni mengajak buk Reni untuk melihat sekaligus menjemput anaknya ke buak nona tersebut, dan buk Renipun mengiyakan ajakan dari buk Piakni. Dan kedua ibu itupun berangkat ke buak nona.
Sejenak kita mengalihkan pandangan ke buak nona, ditengah keasyikan mereka bermain, salah satu dari mereka baru menyadari kalau mereka telah terlalu lama bermain ditempat itu.
“Nal,,, lah nal,,, lah lamo awak main ma,,, jam bara hari ko,? Baliak wak lai,,” (nal, dah lama kita bermain disini, dah jam berapa ini, balik yuk,,!!)
“Bonta lai la,, ko main masih lamak haa,,,” (bentar lagi lah, ne  masih asyik ne mainnya,,)
“lah nal, ayo balik,,,,” (sudahlah, ayo balik,,) ajak riki bersikeras.
“jadina,,,,,” (ayok,,) Zainal mengalah kepada Riki, merekapun memasang baju mereka. Tidak terasa bahwa mereka telah main di buak nona selama 3jam dan telah meninggalkan shalat Zuhur. Ditengah kerjaan mereka memasang baju, dari atas terdengar teriakan dari suara wanita yang lumayan tua, yang suaranya menggambarkan bahwa dia akan marah, perempuan itu adalah ibuk Reni yang berteriak memanggil anaknya.
“Inal,,,,,,,!!!!!!, baliak capek, sia yang majaan ang malala,??” (inal,,,, cepat balik, siapa yang ngajarin kamu berbuat kayak gini,??)
Mendengar teriak itu, kedua anak itu kaget, dan terlihat mereka salng berbisik-bisik
“tukan aa kecek ambo, kalau awak tu lah terlewat waktu ee.”(Tu kan, apa ku bilang, kalau kita sudah terlewat waktunya). Sesal Riki pada Zainal
“iyo,,,iyo,,, tu kini nak manga lai, tu amak awak lah tiboloh manjapuok haa,,,” (iya,, terus sekarang mau gimana, itu ibuku dan ibumu dah datang mau menjemput..) jawab Zainal
“makonyo copeklah,,,” (makanya cepatlah,,) suruh Riki pada Zainal
Tidak lama kemudian, setelah mereka berbisik, terdengar lagi suara teriakan dari atas, yang memanggil nama Riki.
“Riki,,,,,,, alun juo lai,,,??” (Riki,,, Cepatlah,,,!!!) suara buk Piani memanggil anaknya.
Kelihatannya kedua ibu itu marah berat, mendengar teriakan yang kedua ini, kedua anak ini lansung bergesa-gesa memasang bajunya dan mereka bersegera menemui ibuknya yang sedang marah-marah diatas tadi. Dalam perjalanan menuju keatas, salah satu dari mereka tergelincir dan jatuh. Pahanya terluka dan mengeluarkan darah karena tergores kelikir-kelikir kecil, dan salah satu dari mereka itu adalah Zainal. Anak itu lansung berteriak kesakitan, sang ibu yang tadinya marah, perasaannya berubah menjadi perhatian kepada anaknya karena musibah yang menimpa anaknya itu, tapi buk Piani tetap memperlihatkan wajah marahnya pada Riki anaknya.
Dari bawah terlihat Riki yang sedang mengiringi Zainal yang jatuh dipertengahan jalan, setelah sampai ditempat ibu mereka, ibu Reni menyambut anaknya dengan wajah yang bercampur antara marah dan perhatian sedangkan buk Piani menyambut anaknya dengan wajah merah padam, dengan mempersiapkan satu batang kayu yang akan digunakan untuk malocuikt atau memukul Riki anaknya.
Buk Reni : “malala juo lah nek lai,,,,” (makanya jangan main-main terus,,,)
Buk Piani : “siaa yang maajaan kalian babuek mode iko,,?? (siapa yang ngajarin kalian berbuat kayak gini??)
Sambil dipegang dan ditarik oleh ibuya, Riki menjawab dengan wajah pucat karena takut melihat ibunya yang membawa sebatang kayu kecil.
Riki : “ndak ado lo,,” (tidak ada)
Buk Piani : “tu baa main-main mode iko kalian gai,,??” (terus kenapa kalian berbuat kayak gini..??)
Buk Reni : “lah ma tek piani, baoklah nyo karumah lu,,” (sudahlah buk, mendingan mereka dibawa pulang dulu) ajak buk Reni pada buk Piani
Riki & Zainal : “moo kami buk,,,” (maafkan kami buk,,,)
Mendengarkan kata permohonan maaf dari kedua anak itu, kedua hati ibu itupun luluh, apalagi ibuk Reni yang sebenarnya tidak tega lagi untuk memarahi anaknya. Akhirnya kedua ibu itu mengiringi anaknya masing-masing pulang kerumah. Diperjalanan ibu Reni berkata pada anaknya, nanti kalau dimarahi ayahnya jangan menjawab apa-apa, karena pak Iban suaminya buk Reni sangat galak sekali. Bisa-bisa anaknya dipukul habis-habisan. Buk Piani juga berkata demikian pada anaknya, nanti kalau pak Inas suaminya buk Piani marah pada Riki, dia menyuruh Riki untuk diam, karena pak Inas galaknya sama persis dengan pak Iban.
Sesampai mereka dirumah masing-masing, Zainal lansung dimarahi habis-habisan oleh ayahnya dan dipukulin oleh ayahnya.
“manga babaliak lo ang,,??” (ngapain kamu balik??) pertanyaan pak Iban pada anaknya sambil memukul pantat Zainal dengan sebatang kayu kecil. Mendengar dan melihat tingkah ayahnya, Zainal hanya bisa diam tertegun karena dia menyesali perbuatannya. Sementara ayahnya terus memarahinya.
Jika kita memandang ke pak Inas, dia tidak memarahi Riki, tapi dia hanya menasehati anaknya, dia berkata pada anaknya bahwa untuk yang pertama ini Riki bisa dimaafkan, tapi nanti jika terulang yang kedua kalinya maka pak Inas tidak akan memaafkan. Pak Inas mengatakan jika Riki mengulang maka ayahnya akan menghukum dengan mangobeken Riki ka batang sontu yang ado karonggonyo. Riki hanya terdiam dan menyesali perbuatannya.
Sejak kejadian itu, Zainal dan Riki merasa malu pada si sulung, karena si sulung mengetahui kejadian yang menimpa mereka. Sejak itu mereka malah rajin belajar dan sering ikut-ikutan sama si sulung dan merekapun mendapatkan nilai baik di sekolah. Beberapa minggu kemudian mereka berubah, orang tua mereka senang sekali melihat perubahan itu.
Itulah akibatnya jika kita membangkang pada orang tua, pasti ada sesuatu yang akan menimpa kita. Jadi kepada para pembaca, jangan sekali-kali kita melanggar pada perkataan orang tua kita, terutama kepada adik-adik yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Kita harus patuh, taat kepada orang tua. Tidak mungkin orang tua kita mengajarkan kepada kita hal-hal yang buruk. Lihatlah si Zainal dan Riki karena membangkan kepada orang tuanya, mereka malah kena marah-marah dan telah meninggalkan ibadah shalat zuhur.
0------------0OOO0-----------0
Ketiga, Perjalanan sang ayah
Haripun terus berganti, waktu terus berputar, bulanpun silih berganti, sehingga tibalah pasa suatu pagi. Mentari telah mewujudkan dirinya untuk menerangi bumi. Suasana cerah telah kelihatan, para manusia telah bangun dari tidurnya dan sebagian sudah mulai beraktifitas, burung-burungpun telah berterbangan untuk mencari makan.
Pagi itu suasana rumah si sulung kelihatan seperti ada acara perpisahan, karena ayah si sulung akan pergi kehutan  bersama teman-temannya untuk berburu rusa. Ayah sulung sudah berpakaian seperti seorang buru, nasi yang berbungkuskan daun pisang dan di gulung dalam selayar (sapu tangan) telah mengikat pinggang sang ayah, topi cowboypun telah menempel di kepalanya dan teman-teman ayah sulungpun telah berkumpul disana.
“piak,,, uda pai baburu yo,,,, jago anak-anak yo,,, insyaAllah beko sanjo uda lah baliak,,,” (buk, ayah berangkat berburu ya,, jaga anak-anak. insyaAllah ntar sore) kata ayah minta izin kepada istri dan kedua anaknya. Mendengar perkataan dari ayahnya si sulung dan si bungsu sekonyong-konyongnya mendekati dan memeluk ayahnya seolah-olah mereka tidak memberikan izin keberangkatan ayahnya itu. Sambil memeluk ayahnya si bungsu berkata
“bak,, hati-hati yo,,,,” (yah,,, hati-hati ya,,,,)
Suasana perpisahanpun selesai, ayah dan teman-temannya berangkat sedangkan ibu Munah dan kedua anaknya melepas dengan pandangan yang sangat panjang kepada sang ayah. Sulung melambaikan tangannya pada ayahnya, pandangan si bungsupun tidak putus pada ayahnya sampai ayahnya hilang dari pelupuk mata.
Setelah ayahnya berangkat, si sulung juga bersiap-siap untuk berangkat sekolah, ibu Munah dan bungsu juga bersiap-siap untuk berangkat keladang
“Lung,,, beko jan lupo sipengka baok ka ladang dihh,,,,,” (lung, nanti jangan lupa si pengka dibawa ke ladang ya,,)
“ya ndeh,, insyaallah,, ulung barangkek yo,,,” (ya buk,, insyaAllah, ulung berangkat ya buk,,,) sambil mencium tangan ibu munah dan memegang kepala adiknya.
Sekarang rumah yang ada di gubuk itu telah kosong, yang tinggal hanyalah si pengka karena belum waktunya untuk keluar. Ayah telah pergi berburu, ibu munah dan si bungsu telah berangkat keladang dan si sulung telah berangkat ke sekolah. Dan masing-masing mereka melakukan kesibukannya sendiri-sendiri. Seperti itulah suasana rumah ibu Munah setiap harinya.
Jarum jam terus berputar, mataharipun terus naik dan cuaca sudah mulai panas. Tiba–tiba perasaan ibu Munah tidak enak gak karuan, pikirannya selalu terbayang kepada sang ayah sehingga untuk kerjapun ibu Munah tidak semangat, lain dengan Sulung di sekolah Sulung dengan mudahnya dapat menjawab soal-soal dengan cepat, sigap dan benar, tiba-tiba dalam mengerjakan soal tersebut kotak pensilnya terjatuh dari meja kelantai. Hal itu membuat si sulung terkejut dan pikirannya lansung tertuju pada ayah, ibu dan adiknya. Dengan segera si sulung mengumpulkan lembaran ujiannya kemudian dia berlari pulang tanpa berhenti sebelum sampai di rumah.
Sesampai di rumah, dia mengganti baju dan membawa si pengka ke ladang, sesampai di ladang setelah mengikat sipengka di gurun dia menemui ibu dan adiknya dalam keadaan cemas-cemas harap/arok-arok cameh.
“ado apo ndeh,,?” (ada apa buk,,?)
“ndak baa lo lung, tibo-tibo pikiran mandeh ka ayah kalian” (gak apa-apa lung, tiba-tiba ibu ingat ayah kalian)
“tadi ulung mode ituloh maa..” (tadi sulung juga mengalami seperti itu juga..)
Sekonyong-konyongnya si sulung menceritakan semua hal tadi kepada ibunya, ternyata ibu Munah dan Sulung sama-sama memiliki firasat yang tidak enak pada sang ayah.
Bertolak dari Sulung, buk Munah dan si Bungsu yang ada di ladang, kita lihat kejadian yang terjadi di polak gotah disanalah tempat sang ayah dan teman-temannya berburu rusa. Sekarang posisi sang ayah sudah berada di paling dalam Polak Gotah tersebut, padahal waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dalam berburu sang ayah semangat sekali untuk menghalau anjingnya, menyorakkan anjingnya yang kejar-kejaran dengan rusa, tak hanya anjing ayah sulung saja ditambah dengan anjing teman-temannya.
Dalam keasyikan berburu satu dari mereka berkata :
“hei ngku,,,,!! Sumbahyang wak ciek lu lah,, akan gei lu,, ponek loh awak dek ruso duh maa,,” (hei pak,,,!! Shalat dulu, makan, bikin capek kita saja rusa itu)
“oo yolah,,, muahlah,,,,” (ya udah,, ayolah,,,)
Rombongan itu berhenti sejenak, mereka mencari tempat yang nyaman untuk makan dan shalat, setelah mereka mendapatkannya merekapun shalat, selesai shalat mereka sama-sama membuka bungkusan nasi yang telah dibungkuskan dari rumah tadi. Dengan lahap mereka menghabiskan nasi yang harum karena dibungkus dau pisang itu. Anjing-anjing merekapun juga tak lupa juga diberi makan.
Ketika makannya sudah selesai, mereka melanjutkan berburunya dan jam telah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Semakin sore suasana berburu itu semakin asyik dan seru, sampai-sampai kelompok itu berhasil membunuh seekor rusa yang telah dibunuh oleh anjing-anjing mereka. Dan daging rusa itu rencananya akan dibagikan setelah sampai dirumah nantinya.
Waktu terus berlalu, malang dan musibahpun tidak dapat ditolak, pada saat jalan akan pulang sang ayah dan teman-temannya melintas disebuah tebing tinggi yang dibawahnya jurang. Pada saat melintas lokasi tersebut, tiba-tiba kaki kanan si ayah menginjak sebuah tumpukan daun-daun kering yang mana daun itu tertumpuk disebuah lubang yang dalam, dengan tidak sengaja si ayahpun menginjaknya, dia kaget dan kaki kirinya terpeleset sehingga kedua kakinya sudah terjulur kedalam jurang, dan tangannya cepat bergelantungan di sebuah batang yang tidak terlalu kuat. Melihat kejadian itu teman-temannya lansung berusaha menolong, ayah Sulungpun sudah teriak-teriak minta bantuan,,
“Allah huakbar. . . . . .  tolong,,,,, tolong,,,,,” berkata-kata sambil bergelantung dipohon yang tidak kuat itu, teman-temannya sudah berusaha untuk menggapai ayah sulung, tapi sayang keburu pohonnya patah dan akhirnya ayah si sulung tidak dapat diselamatkan dan jatuhlah ayah sulung kedalam jurang yang dalamnya + 2km itu. Dalam jangka waktu yang singkat suara ayah si sulung sudah tidak terdengar lagi, rombongannya tetap mencoba memanggil, tapi tidak jawaban dari dalam jurang tersebut, yang terdengar hanyalah gema dari suara teman-teman si ayah. Rombongan tersebut mencoba menelusuri jurang tersebut tapi terlalu dalam sedangkan jam telah menunjukkan pukul 17.15 WIB.
Ternyata jatuhnya ayah si sulung hinggap lansung ke sebuah batu besar, lebih parahnya lagi kepalanya yang awal hinggap ke batu tersebut, semua tubuhnya bergelumam darah, tulang-tulangnya patah, ditambah lagi dengan nyawa juga lansung melayang seketika. Tidak lama setelah itu binatang buas yang ada dalam jurang tersebut lansung mendekati dan merebutkan tubuh ayah si sulung yang sudah tidak bernyawa tersebut, sekaligus ayah si Sulung menjadi mangsa binatang buas dalam jurang tersebut.
Usaha yang dilakukan oleh teman-temannya sia-sia saja, karena mereka tidak sanggup untuk menelusuri jurang yang gelap dan seram itu, setelah setengah jam berlalu dan tiada hasil, mereka kembali pulang dan membawa kabar buruk itu pada buk Munah.
Dirumah buk Munah sudah gelisah, karena waktunya pulang tapi suaminya belum juga datang-datang. Buk Munah menunggu didepan pintu dengan kedua anaknya,
“ndeh… abak mano ndeh,? Kok alun tibo lai..? (buk, ayah mana buk? Kok belum datang?)
“sabar yo nak,, mungkin sabanta lai tibo, , ,” (sabar ya nakk,, mungkin sebentar lagi,,) sambil memeluk dan membujuk anaknya yang sedih karena ayahnya belum pulang juga. Buk Munah sudah menitikkan air mata dalam penungguannya yang pasti berakhir dengan kesedihan karena sang ayah sudah meninggal dunia di dalam jurang yang penuh dengan binatang buas.
Mataharipun telah menyembunyikan wujudnya, sinarnya sedikit demi sedikit mulai menghilang, suasana yang terang sudah mulai gelap rasa harap-harap cemas buk munah tidak kunjung hilang, perasaannya selalu dihantui dengan oleh harapan kedatangan si ayah kejaadian itu terus terjadi sampai azan maghrib berkumandang.
Shalat maghribpun telah selesai mereka lakukan mereka juga belum mau makan karena ingin makan malam bersama ayah. Buk Munah menyuruh kedua anaknya untuk makan tapi mereka tidak mau, mereka hanya mau makan apabila bersama ayah, apalagi si Bungsu yang maunya makan satu piring bersama ayahnya. Sekali 5 menit buk Munah melihat ke ujung rumah berharap datangnya sang ayah tapi harapan seperti itu tidak hasilnya.
Setengah jam telah berlalu, 15 menit sebelum azan isya berkumandang, terdengarlah suara jejak jalan kaki yang datang dari ujung rumah, suara jejak yang kira-kira lebih dari satu orang. Mendengarkan suara itu buk Munah yang tadinya sedih dipenuhi harap-harap cemas lansung berubah senang, Sulung dan Bungsu yang tadinya murung berubah bahagia dan bersorak-sorak.
“hore, , , , , , ,  abak tibo, hore, , , , , ,  abak tibo,,,,,,!!!” (hore , , , ayah datang)
Kebahagiaan kedua anak tersebut tidak dapat digambarkan lagi, buk Munah melanjutkan rasa bahagianya dengan membukakan pintu supaya dia bisa melihat dengan jelas siapa yang datang, orang yang datang itu makin dekat dengan pintu, buk Munahpun telah membukakan pintu, ternyata setelah membukakan pintu senyum buk Munah berubah menjadi sebuah rengutan, wajahnya berubah dan dia lansung memegang kedua anaknya karena dia melihat 3 orang yang sama berangkat dengan sang ayah tadi pagi, tapi ketika pulang sang ayah tidak bersama rombongan itu, melihat hal seperti itu si Sulung heran dan menanyakan keberadaan ayahnya kepada sekelompok orang tersebut.
“pak uwo, ,  , ,  maa abak ulung? Kok dak samo-samo?” (pak, ayahku mana? Kok tidak bareng?)
Belum sempat sekelompok orang itu menjawab, mereka sudah dijatuhi pertanyaan lagi oleh si Bungsu.
“Pak uwo, , , ,  maa abak kami,,??” ( pak, mana ayah kami??) pertanyaan dengan suara yang cemas dan sedikit keras, melihat hal seperti itu buk munah lansung mengambil alih suasana di pintu rumah itu dengan mengajak masuk ketiga orang itu. Dengan suara yang lemah dan putus-putus buk Munah mengajak masuk orang itu.
“yok pakk, masuak kadalam lu,,,!!” (mari pak, masuk dulu,,,)
“yo lah,,,, mokasi,,” (ya buk, terima kasih,,) sambil membuka sepatu yang mereka pakai.
“pak, ado apo sabananyo, kok abak si ulung dak ado samo ongku-ongku ko??” (pak, ada apa sebenarnya, kok ayahnya sulung tidak bersamaan dengan bapak-bapak ini?)
“eee, , , , , eee, , , , , jadi , , , , , , , , ,” (mereka bingung mau bilang apa)
“jadi apo pak,,?” (jadi apa pak?) buk Munah lansung melanjutkan.
Mendengarkan pertanyaan yang sudah mendesak itu, salah satu dari 3 orang tersebut menerangkan hal yang sebenarnya terjadi.
“tapi etek jan takajuik loh ndak, tolong etek tahan walaupun apo yang ka kami sabuik ko, anak-anak etek tolong dikendalikan..” (tapi ibu jangan kaget, tolong nanti ibu tahan walaupun apa yang akan kami sampaikan ini, anak-anak ibuk tolong dikendalikan..)
“memangnyo ado apo pak..??” (memangnya ada pak..??) pertanyaan buk Munah dengan mata yang merah dan kerut dahi yang banyak.
Mendengarkan itu, sekonyong-konyongnya satu dari mereka menceritakn semua hal-hal yang terjadi pada ayah si Sulung. Panjang lebar mereka menceritakan semua hal itu, buk Munah terkejut dan menangis sedangkan si Sulung dan si Bungsu menangis sekuat-kuatnya sehingga buk Munah tidak sanggup untuk mengendalikan kedua anaknya. Ketiga orang itu juga melantunkan permohonan maaf kepada buk Munah. Buk Munah memeluk kedua anaknya dengan penuh sayang, ketika perasaan buk Munah dihantui sedih yang tidak terduga, ingin rasanya buk Munah menyusul ke Polak Gotah untuk menjemput dan melihat suaminya tapi apalah daya hari sudah malam.
Karena tidak kuat untuk menahan tangis dan sedih, akhirnya buk Munah pingsan tidak sadarkan diri, tangisan kedua anaknya semakin kuat sambil memanggil-manggil ayah dan ibunya. Sedangkan salah satu dari 3 orang tersebut pergi minta bantuan ke tetangga untuk menolong buk Munah.
Jatuh pingsannya buk Munah berbarengan dengan dikumandangkannya azan isya yang terdengar dari puncak mesjid Baitullah. pada malam itu setelah shalat isya masyarakat yang tau tentang kejadian buk Munah lansung datang kerumahnya untuk menjenguk dan menghibur buk Munah serta kedua anaknya. Malam harinya buk Munah baru siuman sedangkan kedua anaknya masih duduk dan menangis disamping ibunya karena tidak mau kehilangan ibunya setelah ayahnya tiada.
0------------0OOO0-----------0

Keempat, buk Munah jatuh sakit
Semenjak siuman, buk Munah hanya termenung dan memandangi anaknya akan kejadian kemaren. Kejadian itu sangat memukul perasaan buk Munah dan kedua anaknya, dan membuat Sulung libur sekolah karena merawat ibunya yang sedang sakit. Teman-teman sekolah Sulungpun juga berdatangan, buk Guru Sulung dari sekolah juga mengucapkan bela sungkawa dan duka cita pada buk Munah.
Semenjak kejadian itu, selama satu minggu rumah buk Munah di penuhi oleh orang yang berdatangan karena ingin berbela sungkawa dengan buk Munah dan kedua anaknya. Selama waktu itu pula Sulung harus libur sekolah. Si Bungsu selalu bersama ibunya, karena sangat trauma denga kejadian itu yang harus kehilangan ayah yang paling dia sayangi, sekarang buk Munah harus lebih tegar lagi dalam menghidupi dua anaknya.
Seminggu telah berlalu, suasana rumah Sulung sudah mulai sepi karena tidak ada lagi masyarakat atau tetangga yang berdatangan, aktifitas Sulung untuk sekolah juga sudah mulai berjalan kembali sedangkan buk Munah dan si Bungsu juga sudah memulai bekerja keladang meskipun tanpa keberadaan sang ayah. Buk Munah kerja sendiri, mencangkul, melubangi, menanam, menyiram, membersihkan kalangnya sedangkan si Bungsu hanya bisa menemani tapi tidak bisa membantu buk Munah dalam melakukan pekerjaan di ladang. Buk Munah mendapatkan bantuan dari si Sulung ketika si Sulung pulang sekolah.
Jarum jam terus berputar, disekolah, teman-teman Sulung selalu menghibur Sulung. Zaenal dan Riki selalu mengajak Sulung bermain bersama, agar Sulung tidak terlalu terpukul dengan kejadian yang menimpa keluarganya. Setelah bel pulang berbunyi, Sulung, Zaenal dan Riki mereka pulang barengan  mereka berjalan sambil cerita-cerita lucon sehingga membuat suasana tertawa sedangkan Sulung tertawa hanya dengan menggoyangkan bibirnya sedikit saja. Sesampai dirumah si Sulung mengganti pakaiannya dan lansung membawa si pengka ke ladang, sekaligus shalat zuhur dan makan siang di ladang bersama ibu dan si Bungsu.
Pada hari itu, si Sulung mengikatkan kambingnya di tempat yang banyak pohon-pohon kecil, ditempat yang mana si pengka mudah “terkujut”, tapi si Sulung tidak memikirkan tentang hal itu, pikirannya hanyalah makan dan shalat karena sudah terlalu lapar serta terik matahari.
“Assalamu’alaikum ndeh,,,” (teriak sulung sesampainya di ladang)
“Wa’alaikumsalam,, baru pulang luang??”
“iyo ndeh,,” sambil duduk diperumahan tepi ladang
“Dimaa ulung ataan kambiang tadi,,?” (kambing dimana?) Tanya ibu Munah pada Sulung.
“Dibawah batang rambutan tu haa,,” (dibawah pohon rambutan) jawab ulung
“kiro-kiro lai dak di tompek yang ndak takujuik,?” (kira-kira di tempat yang mudah terkujut gak) tambahan pertanyaan dari Buk Munah yang cemas dengan keselamatan kambingnya.
“mudah-mudahan indak,,” jawab sulung dengan tenang.
Tapi apakah yang terjadi, yang Maha Kuasa kembali menguji kesabaran keluarga Sulung. Setelah selesai makan dan shalat Zuhur, mandeh Munah kembali bekerja sampai waktu Ashar. Ketika azan Ashar berkumandang, mandeh Munah mengajak kedua anaknya untuk pulang.
“Lung, pailah lopeen kambiang ulung lai, lansuang baok baliak yo,,!!” (Lung, pergi lepaskan ikat kambingmu, lansung bawa balik ya,,!!) suruh mandeh Munah ke Sulung
“iyo ndeh,,,,” jawab Sulung sambil menuju ketempat kambing yang lumayan jauh dari ladang itu.
Sesampai di tempat kambing itu, si Sulung heran dan terkejut melihat kambingnya yang tidak bernyawa lagi, di duga karena talinya terkujut di pohon-pohon kecil itu. Dia lansung teriak sambil menangis memanggil mandeh.
“mandeh,,,,,,, kambianglah mati,,,,!!!!!!” (ibu,,,,,, Kambiangnya mati,,,,!!!!)
“Astaghfirullah,,, mati baa kambiang duh,??” (Astaghfirullah,,, mati kenapa dia,,??) Tanya buk Munah yang sangat kaget sekali.
“nyo takujuik di batang ko ha,,” (dia terkujut di pohon ini) sambil menunjuk kesebuah pohon kecil tempat si pengka terkujut
Mendengar itu, mandeh munah semakin terpukul dan dia membereskan mayat kambing itu dengan Sulung. Sore itu juga mereka menggali lubang untuk menguburkan kambing itu dengan ditemani linangan air mata mandeh dan Sulung menguburkan kambing itu. Setelah semua selesai mereka lansung pulang kerumah. Si Sulung sangat terpukul karena kehilangan binatang piaraannya, sedangkan mandeh munah sangat sedih, air matanya “jatuh kedalam”, setelah kehilangan suami sekarang harus kehilangan harta satu-satunya yang diharapkan sebagai penyambung hidup si Sulung dan si Bungsu ketika dewasa kelak.
Waktu terus belalu, pada suatu malam mandeh Munah sekonyong-konyongnya memandang kedua anaknya yang sudah tidur lelap. Mandeh munah berpikir nasib kedua anaknya itu tanpa ayahnya. Tiba-tiba mandeh munah berkata dalam hati:
“Pak, baa kok mode nasib keluarga awak? Baa caro ambo mengasuh anak awak? Anak tapukua bana raso ee ma, lah hilang urang yang nyo sayang, kini inyo harus kehilangan kambiangnyo lo, padahal kambiang tulah untuak panyambuang hiduiknyo,” (pak, kenapa seperti ini nasib kita? Bagaimana caranya untuk mengasuh anak kita? Mereka terpukul sekali sesudah kehilangan orang yang mereka saying sekarang harus kehilangan kambingnya, padahal kambing itu satu-satunya harta penyambung hidup mereka.) sambil menangis mandeh berkata demikian dengan suara yang putus-putus, air mata mandeh Munahpun jatuh ke pipi si Bungsu yang sedang tidur terlelap di malam itu.
Malampun berlarut, tanpa disadari setelah menangis mandehpn tertidur disebelah kedua anaknya. Suasananya berbeda dengan yang biasanya, yang biasa ditemani sang ayah sekarang mereka berkelumun dalam satu selimut dengan Sulung dan Bungsu.
Pada suatu hari ketika, mandeh Munah saking kuatnya bekerja dan mencari nafkah tiba-tiba jatuh sakit. Mandeh tidak kuat lagi untuk melakukan pekerjaan rumah, apalagi untuk pekerjaan di ladang, mandeh Munah hanya bisa tidur dirumah dan dirawat si Sulung dan si Bungsu. Mandeh Munah jatuh sakit betepatan dengan ujian naik kelas si Sulung, mandeh Munah berpesan kepada si Sulung agar si Sulung tetap ikut ujian naik kelas. Mendengarkan hal itu semangat si Sulungpun menyala-nyala untuk ikut ujian. Ditengah kesibukannya mengurusi ibuknya dia juga menyempatkan untuk membaca buku pelajaran, dan ditengah kesibukannya membaca buku pelajarannya dia juga menyempatkan untuk menyuapi mandeh Munah kalau waktu makan telah tiba. Kalau Sulung berangkat sekolah si Bungsu yang gantian merawat mandeh Munah di rumah.
Sepulang sekolah, Sulung memasak nasi buat makan malam. Si Bungsu yang menjaga ibu, waktu menunggui nasi masak si Sulung dan si Bungsu duduk disamping mandeh Munah dengan membawa buku pelajaran, disanalah mandeh Munah berpesan kepada Sulung dan Bungsu.
“lung, bapakmu sudah tiada, mandeh juga sudah sakit-sakit seperti ini, tiada yang lain kecuali kamu sebagai tertua yang akan merawat adikmu, jangan sekali-kali kamu tinggalkan ataupun berpisah dengan adikmu. Kasian nanti adikmu, seandainya nanti mandeh telah tiada kalian jangan pernah brantem ya,, rawat adikmu dengan baik, jaga adikmu, hanya kamu yang akan membela adikmu dikala dia diganggu oranglain, didik dia ajarin dia ilmu pengetahuan karena dia belum mencoba sekolah sepertimu,,”
Air mata mandeh Munah jatuh berlinangan ketika berpesan demikian pada Sulung. Sedangkan si Sulung menahan sekuat tenaga agar dia tidak menangis didepan mandeh Munah. Si Sulungpun kembali kedapur, karena nasinya sudah mendidih (manggalogak), ketika didapur itulah dia menangis terseduh-seduh teringat akan nasehat ayah dan mandehnya, barulah dia merasakan betapa banyak pengorbanan sebagai orang tua. Sambil mengacau nasi dia menangis sampai-sampai airmata sulung jatuh kedalam adukan nasi.
Waktu terus berlalu, jam terus berputar tibalah waktunya Sulung ujian naik kelas pada hari terakhir. Sulung merasa lega karena ujiannya hampir selesai jadi dia bisa lebih leluasa untuk merawat ibunya yang sakit. Dari awal mandeh Munah sudah berpesan kepada Sulung untuk rajin belajar agar mendapatkan juara. Si Sulung telah mengindahkan nasehat mandehnya itu dan dia telah menghadapi ujiannya yang disertai dengan merawat mandehnya yang sakit, apakah ujian si Sulung berbuah bagus atau tidak,?
Tibalah saatnya hari penerimaan lapor, setelah menyuapi mandeh makan pagi, si Sulung pamitan sama mandeh dan adiknya.
“ndeh,, ulung pai lu yo,, bungsu tolong jago mandeh suok on mandeh makan,,,” (buk, sulung berangkat dulu, bungsu jaga ibu ya, ntar suapin ibu  makannya) suruh sulung pada si bungsu
“hati-hati yo lung,,,!!” jawab sang ibu, tiba-tiba pada pagi itu mandeh Munah memeluk si Sulung dan mencium keningnya serta memeluk si Bungsu walaupun diatas kasur itu, sulungpun mencium tangan mandeh Munah.
“Assalamu’alaikum,,,,,” ucap Sulung sambil keluar rumah
“wa’alaikumsalam,,,,” jawab mandeh dan si Bungsu
Pagipun habis, siangpun telah mulai datang. Di sekolah sekarang semua siswa sudah berkumpul dan merasa dek-dekan karena akan mengambil hasil pelajaran. Dalam penerimaan lapor ini si Sulung ternyata berhasil. Dia kaget dan terkejut waktu mendengarkan pengumuman dari buk guru ketika berbaris di halaman sekolah:
“untuk peringkat pertama, dengan jumlah nilai 45,30 dan nilai rata-rata 9,32 di raih oleh anak kita yang bernama,,,,,,,, S U L U N G,,,,!!!!!!!” Begitulah bunyi pengumuan dari ibu guru yang mana pengmumannya di mulai dari kelas I, hal itu diumumkan setelah mengumumkan peringkat III dan II
“kepada nama-nama tersebut, untuk maju ke depan” tambahan pengumuman bu guru yang mengumunkan hal tersebut. Semua nama-nama yang disebut tadi dari kelas I sampai kelas VI maju kedepan dan sulungpun sekonyong-konyongnya maju dengan hati senang dan gembira, dan berharap hari ini akan menjadi berita gembira untuk mandehnya yang sedang sakit. Setelah semuanya maju bu guru membagikan lapornya kepada anak-anak yang mendapat juara tersebut. Sulung sangat senang sekali. Tapi apa yang terjadi di balik semua kesenangan si sulung??
Hal yang berlawanan terjadi dirumah, penyakit ibu semakin parah dan menjadi-jadi. Sekarang buk Munah hanya bisa tidur dan memanggil-manggil kedua anaknya. Masyarakatpun telah banyak berdatangan kerumah buk Munah, melihat keadaan buk Munah seperti itu masyarakat sudah harap-harap cemas (arok-arok come) sedangkan si Bungsu hanya menangis duduk disebelah ibunya sambil memanggil kakaknya, dalam keadaan seperti itu buk munah masih sempat berbicara kepada si Bungsu dengan suara yang pelan dan berbicara dengan lembut sekali;
“nak,, jago diri elok-elok yo,, baraja yang rajin, sembahyang jan ditinggaan, bisuak usahoanlah mambangkik batang tarandam dek kalian baduo” (nak, jaga diri baik-baik ya, belajarlah yang rajin, shalat dan ibadah jangan di tinggalkan dan usahakanlah untuk mambangkik batang tarandam
Mendengarkan perkataan seperti itu si Bungsu semakin menangis dan sangat takut akan kehilangan ibundanya tercinta. Tidak lama kemudian, penyakit mandeh Munah semakin menjadi-jadi dan mandeh Munah terus-terusan kesakitan dan si Bungsu duduk memeluk mandehnya. Malang yang tidak dapat di tolak mandeh Munahpun berlalu dengan tenang didalam pelukan si Bungsu. Si Bungsu menangis lebih keras lagi, masyarakat mencoba menenangkannya tapi tidak sanggup, Bungsu terus memanggil kakaknya si Sulung.
“da ulung, , , , , !!!!!!! mandeh lah maningga,, , , , , , , , , “ (kak ulung,,,, ibu sudah meninggal,,,,)
Ratapan si Bungsu sambil tetap memegang mandeh Munah yang sudah ditutupi dengan kain panjang.
Ketika pulang sekolah, sesampai di ujung rumah Sulung dihantui oleh rasa heran karena melihat sekumpulan orang banyak yang ada dirumahnya. Dia melihat kondisi rumahnya sangat berbeda. Semua kursi dikeluarkan, semua jendela dibuka ditambah lagi dengan adanya kibaran kain putih yang digantung diujung rumahnya. Rasa penasaran Sulung semakin menjadi-jadi, dia mendekati rumahnya dan tiba-tiba ada seorang ibu berkata padanya:
“nak, , , , yang saba yo nak. . .!! mudah-mudahan ado hikmahnyo. . (nak,, yang sabar ya nak, mudah-mudahan ada hikmahnya..)
Mendengar semua itu si Sulung membuang buku dan tasnya dan dia berlari kepintu rumah, melihat jenazah mandehnya yang terbujur dan tertutup kain panjang dia lansung berteriak menangis sambil memeluk si Bungsu.
“m a n d e h h h h h h, , , , , , , , , , , , , , ,!! ! ! ! ! ! ! !”
“mmaaaannnddddeeeeeehhhhhhhhhhh,,,,,,,,,,. . . . . . . . . . . . . . .! ! ! ! ! ! ! ! ! ! !
Sulung berkata sambil menangis:
“baa kok batinggaan kami baduo ndeh??  Indak ko sayang mandeh kakami lai?? Kama kami kabagantuang lai?? Lah habih tampek kami bagantuang, lah runtuah sado tampek kami bataduah. Kajadi apo kami ko mandeh?? (kenapa ditinggalkan kami berdua buk? Apakah gak sayang lagi ibu sama kami? Kemana kami akan bergantung? Sudah habis tempat kami menggantungkan nasib, sudah runtuh semua tempat kami berteduh, akan jadi apa kami ini nantinya?)
Dia memeluk jenazah ibunya sekuat-kuatnya, berteriak sekuat-kuatnya, karena dia belum siap untuk menerima semua kenyataan ini. Tak lain tak bukan dia hanya bisa menangis sambil memeluk si Bungsu. Masyarakat mencoba untuk menenangkan kedua kakak beradik itu, tapi apakah daya si Sulung yang waktu itu masih berumur 8,5 tahun hanya bisa menangis, menangis dan menangis.
Mulai saat itu si Sulung harus menjaga adiknya, dan menjalankan pesan-pesan dari orang tuanya, si Bungsupun tetap memeluk kakaknya dengan kuat, dia terus menangis dan meratapi kepergian ibunya.
Tidak lama kemudian, masyarakatpun sudah mulai mengurusi jenazah buk Munah untuk dimakamkan, sedangkan si Sulung dan si Bungsu hanya bisa terdiam karena setelah kehilangan ayah, mereka juga harus merelakan ibunya yang sangat dia cintai.
0------------0OOO0-----------0
Kelima, Perpisahan yang harus dihadapi
Dalam waktu satu, dua minggu, si Sulung dan si Bungsu belum bisa menerima kenyataan atau cobaan yang menurutnya sangat berat ini. Mereka terus menangis, seakan-akan mereka tidak ingin hisup lagi. Masyarakat sekitarpun masih menemani si Sulung dan si Bungsu dirumahnya, buk Piakni yang bekerja memasakkan nasi untuk si Sulung dan si Bungsu, Zainal dan Riki juga selalu mencoba menghibur dan mengisi waktu-waktu sedih mereka.
Kini tinggalah dua serangkai yang selalu dikerumuti kesedihan, mereka belum bisa menghiraukan apa kata orang, isi perasaan mereka hanyalah sedih, karena setelah kehilangan ayah, mereka juga harus kehilangan mandehnya. Dengan keadaan mereka yang seperti itu, sesuai dengan syair minang yang menyebutkan:
Ampunkanlah. . . . .  oh Tuhan. . . ,    (Ampunilah oh Tuhan. . .)
Ayah mandeh den. . . . . . ,                  (Ayah dan ibu ku. . .)
Jauahkanlah. . . . . oh Tuhan. . . ,       (Jauhkanlah oh Tuhan. . .)
S’galo siksaan. . . ,                              (Segala siksaan. . .)

Sayangi kasihi cintoi. . . ,                   (Sayangi, kasihi, cintai. . .)
Dalam sarugo. . . ,                              (Di dalam Surga. . .)
Bak cando baliau ka kami. . . ,          (Seperti mereka kepada kami. . .)
Maso hiduiknyo. . . ,                           (Semasa hidupnya. . .)
Lindungilah. . . . oh Tuhan. . . ,          (Lindungilah oh Tuhan. . .)
Yatim piatu. . . ,                                   (Yatim piatu. . .)
Tunjuakkanlah. . . . oh Tuhan. . . ,     (Tunjukilah oh Tuhan. . .)
Jalan nan luruih. . . ,                           (Jalan yang lurus. . .)
Jan sasek kakiko malangkah. . . ,      (Jangan Sesat kaki ini melangkah…)
Dalam hiduik ko. . . ,                          (Dalam hidup ini…)
Jan biakan kami ko laruik. . . ,           (Jangan biarkan kami ini larut…)
Dalam sansaro. . . ,                            (Dalam kesengsaraan…)
Yo bak cando tuneh. . . ,                    (Seperti sebuah tunas…)
Nan baru ka tumbuah. . . ,                (Yang akan tumbuh…)
Di tapi jalan. . . ,                                  (Di tepi jalan…)
Sia ka mamupuak. . . ,                        (Siapa yang akan memupuk…)
Antah kok lai ado. . . ,                                    (Untunglah kalau ada…)
Turunnyo hujan. . . ,                          (Turunnya hujan…)

Malang tak bamandeh. . . ,                (Malang tiada ada ibu…)
Sansai tak baayah. . . ,                       (Sengsara tiada ada ayah…)
Kami tangguangkan. . . ,                    (Kami tanggungkan…)
Untuang kok nyo isuak. . . ,               (Untunglah kalau besok-besoknya…)
Sananglai ka tibo. . . ,                         (Senang akan datang…)
Syair yang diciptakan oleh ayahanda Sexri Budiman tersebut menceritakan tentang pahitnya kehidupan seorang anak tanpa kehadiran kedua orang tua. Apalagi si anak yang masih berada dibawah umur yang memang perlu dan haus akan kasih sayang dari orang tua.
Melihat keadaan si Sulung dan si Bungsu seperti, sehingga membuat minat salah seorang tetangga yang berjauhan rumahnya dari rumah Sulung untuk merawat dan menyekolahkan si Sulung. Tetangga itu adalah buk Rosma Yanti, beliau merupakan salah seorang guru di SMP Muhammadiyah Negara Batin Way Kanan Lampung. Buk Yanti ini sangat simpatik sekali melihat keadaan kedua kakak adik ini.
Karena kebingungan buk Yanti harus menemui dan berbicara dengan siapa, maka buk Yanti lansung saja menyampaikan hajatnya kepada buk Piakni,
“buk Piakni, , , , , “ panggil buk Yanti dan mengawali pembicaraan dengan buk Piakni.
“yo buk… ado apo buk..?” (ya buk, ada apa buk,,) jawab buk Piakni dengan kaget.
“maliek keadaan Sulung jo Bungsu mode iko, sangenek banyaknyo adolah raso ambo untuak mambaoknyo ka Lampung, bialah ambo manyakolahan si Sulung tu, baa kiro-kiro buk?” (melihat keadaan Sulung dan Bungsu seperti ini, sedikit banyaknya ada keinginan saya untuk membawanya ke Lampung, biarlah saya yang menyekolahkan si Sulung itu, bagaimana kira-kira buk?)
“iyo buk. . . cubolah ibu tanyo ka Suluang tu…” (iya buk… coba ibu Tanya sama Sulung)
Mendengarkan jawaban dari buk Piakni, guru salah satu sekolah Muhammadiyah di Lampung tersebut lansung menemui si Sulung dan menyampaikan hal tersebut pada si Sulung. Setelah mendengarkan cerita penyampaian hajat dan kenginan  buk Yanti, si Sulung malah balik Tanya kepada semua orang yang ada disana terkhususnya kepada buk Yanti,
“tu baa jo si Bungsu.??” (terus bagaimana dengan si Bungsu.??)
Mendengarkan pertanyaan dari Sulung itu, semua orang yang ada disana terdiam dan kebingungan menjawab pertanyaan si Sulung. Semua ibuk-ibuk disana saling melihat kiri kanan, dan bertanya-tanya bagaimana dengan si Bugsu, apakah buk Yanti juga membawanya atau tidak. Disaat semua kebingungan, tiba-tiba ada terdengar suara dari salah satu ibu yang ada disana dan berkata:
“bia ambo yang merawatnyo..” (biarkan saya yang merawatnya..)
Mendengarkan suara itu, semua ibuk-ibuk menjadi terperangan dan mencari-cari suara siapa yang berkata tadi. Ternyata suara itu adalah buk SyahReniWati, salah seorang pengasuh Panti Asuhan Yatim Piatu Muhammadiyah di kota Solok Sumatra Barat.
“bia ambo masuakkan si Bungsu ka Panti Asuhan, InsyaAllah beko sagalo biaya bia ambo yang nangguang,,,” (biar saya masukkan si Bungsu ke Panti Asuhan, InsyaAllah segala biaya saya yang nanggung..) lanjutan dari buk Wati menambahkan pernyataanya diawal tadi. Suasana menjadi semakin rame, perasaan buk Piakni semakin tidak enak untuk melepaskan si Sulung dan si Bungsu terpisah. Si Sulungpun memeluk adiknya seolah-olah dia tidak mau lagi berpisah dah kehilangan adiknya.
Si Sulung selalu teringat kepada pesan kedua orang tuanya, bahwa dia tidak akan pernah uhtuk berpisah dengan adiknya, di sisi lain si Bungsu juga bingung menghadapi permasalahannya.
“da Ulung, apo iyo awak ka bapisah??” (kak Ulung, apa iya kita akan berpisah?) Tanya bungsu pada kakaknya.
“dulu pasan mandeh jo ayah awak dak buliah bapisah.” (dulu pesan ibu dan ayah kita tidak boleh berpisah) jawab Sulung dengan di iringi hati yang sedih dan terkenang kepada orang tuanya.
Waktupun terus berlalu, hari berganti minggu, jarum jampun terus berputar tanpa henti-hentinya mengelilingi angka-angka indah yang ada di jam tersebut. Malam berganti siang Sulung dan Bungsu semakin bingung terhadap apa yang akan mereka putuskan. Mereka sudah pasrah dengan keadaan, berat hati Sulung untuk melepaskan dan berpisah dengan adik kesayangannya. Dia merasa berdosa karena tidak bisa menjalankan amanat dari orang tuanya. Hal yang samapun dirasakan oleh si Bungsu, si kecil yang masih berumur 6,5 tahun tersebut tidak ingi berpisah dengan kakaknya yang sangat dia cintai.
Berbicaralah  antara Sulung dan Bungsu dari hati kehati, serius walaupun berat untuk  memutuskannya. Akhir pembicaraan mereka, bahwa mereka memutuskan untuk berpisah dan berjanji akan berkumpul kembali di rumah yang mereka tinggalkan. Mereka berbicara tidak terlepas dari linangan air mata yang selalu menemani mereka semenjak musibah demi musibah yang menimpa mereka.
“ka baa juo lai diak, demi kelansungan jo kebahagiaan awak maso kadatang, awak mang harus mode iko dulu. Kok dak mode iko dak sonang iduik awak bisuak do, anta ka jadi apo awak bisuak awak dak tau lo. Badoa jolah diak mudah-mudahan awak bisa bakumpua liak..” (mau gimana lagi dek, demi kelansungan dan kebahagiaan kita dimasa yang akan datang, kita memang harus terpisah dulu. Kalau kita tidak lakukan ini belum tentu kita senang pada masa akan datang. Entah kita jadi apa nantiya kita tidak tau. Berdoalah dek mudah-mudahan kita bisa berkumpul kembali.) itulah ratapan si Sulung pada adiknya dengan mata berkaca-kaca yang di dengar oleh orang banyak. Orang yang mendengarkannyapun penuh linangan air mata. Tidak lepas juga dari buk Yanti dan buk Wati yang akan membawa mereka masing-masing.
Dengan tangisan dan suara yang terseduh-seduh, si Bungsu menjawab kata-kata dari kakaknya si Sulung.
“samanjak ayah jo mandeh tiado, nasib awak makin sansaro, jo hibo urang awak bagantuang. Kini awak bapisah pulo, surang disinan, ciek disiko, antah bilo masonyo awak bakumpua, , , , “ (semenjak ayah dan ibu tiada, nasib kita semakin sengsara, dengan belas kasihan orang lain kita bergantung. Sekarang kitapun terpisah, satu disana, satu disini, entah kapan masanya kita berkumpulkembali)
Masyarakat yang mendengarkan dan menyaksikan sungguh terharu, tidak ada yang tidak menangis melihat perpisahan dua kakak adik itu.
“iko maragang itu mambaok, demi maso ka datang tapaso awak bapisah-pisah. . . .” (ini meregangkan itu membawa, demi masa datang yang bahagia kita terpaksa berpisah-pisah) lanjutan Sulung pada adiknya. Kedua kakak adik itu saling berpelukan dihadapan orang banyak, hamper semua warga Linawan Ilir melihat perpisahan itu, merekapun dirangkul oleh buk Yanti dan berkata kepada kedua anak itu;
“kalian harus saba yo nak,,,,,,” (kalian harus sabar ya nak, , , ,)
Sebelum berpisah, buk Piakni berbicara kepada kedua ibu-ibu yang akan membawa Sulung dan Bungsu. Buk Piakni menyampaikan  pesan kepada mereka agar selalu merawat, menjaga dan mendidik dua kakak adik yang haus dengan semua itu.
Buk Piakni : “buk, kini awak nan manjadi urang tuo dari anak-anak ko, tarimo kasih kalau memang ibu-ibu namuah mambaoknyo. Pasan awak buk tolong jagonyo elok-elok, jan sio-sioonnyo. Jadiinlah nyo urang nan elok dan baguno dek urang lain.” (buk, sekarang kitalah yang menjadi orang tua dari anak-anak ini, terima kasih kalau memang ibu-ibu mau membawa mereka. Pesan kami buk tolong jaga mereka baik-baik, jangan sia-siakan mereka. Jadikanlah mereka orang yang berguna bagi orang lain.)
Buk Yanti : “yo lah buk samo-samo, mohon doa selalu. Mudah-mudahan anak-anakko dan awak basamo selalu berado dalam lindungan Allah SWT.” (ya buk sama-sama, mohon doanya selalu. Mudah-mudahan anak-anak ini dan kita semuanya selalu berada dalam lindnungan Allah SWT)
Buk Wati : “awak kan menganggap Bungsu ko bak cando anak awak surang, dakkan ado piliah kasih,” (kami akan menganggap Bungsu ini seperti anak sendiri, tidak akan ada pilih kasih.)
Ditengah percakapan tiga ibu itu, tiba-tiba. . .
“lung. . . hati-hati yo,,” (lung, hati-hati ya,) kata Zainal sambil memegang pundak si Sulung
“bia kami yang manjago rumahmu lung, , , “ (biar kami yang menjaga rumahmu lung.) tambahan si Riki pada si Sulung dan Bungsu dengan niat sedikit menghibur.
Tangisan demi tangisan terus terjadi pada kedua anak itu, hingga akhirnya mereka berpisah. Si Sulung dibawa oleh buk Yanti ke Lampung untuk disekolahkan sedangkan si Bungsu dibawa oleh buk Wati ke Solok dan dimasukkan ke dalam Panti Asuhan Yatim Piatu. Masyarakat ramai yang menyaksikan lambaian tangan kedua anak itu semakin terseduh-seduh dan tidak dapat menahan isak tangisnya.
Akhirnya berangkatlah si Sulung dan si Bungsu meninggalkan rumaha mereka. Sekarang tinggallah rumah kosong di sudut Linawan Ilir, rumah kosong yang dikelilingi oleh beberapa perpohonan tinggi yang dihiasi dengan pelantara-pelantara tempat duduk yang biasa digunakan oleh keluarga itu jika bersantai. Rumah kosong yang di temani oleh kandang kambing yangjuga kosong. Entah kapan rumah itu akan seperti itu hanya waktu yang akan menjawabnya.
__________0ooooo0____________
B E R S A M B U N G . . . . . . .


1 komentar:

  1. maaf sebelumnya kepada pembaca:
    terjadi kekeliruan dalam mempublikasikan tulisan ini, tadinya penulis ingin membuat blog baru dalam bentuk "Novel Islami dan Motifasi", namun kesalahan tidak dapat dihindari, sehingga antara blog dengan entri tidak ada kesesuaian,
    seharusnya novel itu berada ada blog baru.
    harap maklum
    trima kasih
    by: Penulis

    BalasHapus