Pemikiran Muhammad Naquib Al-Attas Mengenai Pendidikan Islam
(sebuah Sinopsis Pengantar)
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh
dalam memajukan suatu peradaban. Dengan adanya proses pendidikan tersebut akan
membantu masyarakat sekitar untuk melakukan evaluasi serta reaktualisasi diri
terhadap konsep, sistem atau kebiasaan yang telah berlaku dalam
lingkungan-lingkungan kecil, kumpulan masyarakat bahkan dalam suatu negara.
Pendidikan juga mengajarkan sikap dan tingkah laku manusia dalam menjalankan
kehidupan.
Pendidikan dapat juga dimaknai sebagai proses panjang dalam rangka
mengantarkan manusia menjadi seseorang yang memiliki kekuatan intelektual,
emosional, spiritual dan humanis sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya
dalam segala aspek yang dijalaninya. Pada mutakhir ini, lembaga pendidikan
Islam maupun umum terasa sedang mengalami problematika pendidikan yang sangat
komplek dan berat. Semua itu seiring dengan zaman yang juga berkembang pada
kalangan masyarakat zaman sekarang ini. Ketika globalisasi begitu mendunia,
bukan hanya fenomena biasa yang dihadapi oleh dunia pendidikan, tetapi sudah
membicarakan bagaimana manusia terdidik memfungsikan dirinya dalam menghadapi
globalisasi tersebut.
Islam sebagai salah satu agama rahmatan lil ‘alamin juga
mengajarkan kepada pemeluknya agar selalu berprilaku baik yang memiliki adab
dalam segala tindak tanduknya, semua terbukti dengan adanya pelajaran mengenai
adab berpakaian, adab makan dan minum, adab bertamu, adab berbicara, adab
bergaul, adab sesama manusia serta pelajaran yang berkaitan dengan adab
lainnya.
Syariat Islam tidak akan di hayati dan diamalkan orang (manusia)
kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan. Nabi
telah mengajak orang untuk beriman dan beramal sholeh serta berakhlak yang baik
sesuai ajaran Islam dengan berbagai metode dan pendekatan. Dari satu segi kita
melihat, bahwa pendidikan Islam itu lebih banyak ditujukan kepada perbaikan
sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan (Darajat, 2011: 28)
Di era sekarang ini, dalam kehidupan sehari-hari tidak sedikit kaum
muslimin yang beradab dan berprilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islami.
Sebagian dari mereka sudah kehilangan adab dan sopan santunnya, sehingga akan
menjadi penyakit-penyakit sosial dalam masyarakat. Padahal, Islam telah
mengatur dengan jelas tuntutan dalam berakhlak, beradab dan berprilkau
sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Sebagai ummat nabi Muhammad SAW, ada tuntutan bagi
kita untuk bertingkah laku sopan dan memiliki adab dalam melakukan segala
aktifitas. Terutama di zaman modern sekarang, untuk menentang hal-hal yang
menghanyutkan akhlak, aqidah dan adab mereka. Jika aqidah, akhlak dan adab kita
lemah, maka kita akan terbawa dan menjadi korban oleh modernisasi zaman, dan
akhirnya adab prilaku baikpun akan menghilang hanyut dibawa arul modernisasi
itu.
Masyarakat modern telah berhasil mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih, namun disisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih tersebut tidak mampu menumbuhkan moralitas
yang mulia, bahkan terjadi penyimpangan dari aqidah benar. “Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan”. (Shalih fauzan, 2008: 8)
Kita sama-sama memahami bahwa bagaimana tingkah laku dan kebiasaan
generasi muda Islam sekarang akan menentukan nasib perjuangan Islam di kemudian
hari. Melihat keadaan adab dan akhlak masyarakat Islam yang berada di posisi
keterpurukan, maka perlu reaktualisasi dan rekonseptualisasi pendidikan Islam
dalam bentuk Pendidikan Islam berbasis konsep adab.
Syekh Muhammad Naquib Al-Attas juga gelisah dengan terjadinya
krisis ilmu dan keterpurukan adab pada generasi muda Islam. Untuk mengobati
kegelisahan itu Syeikh Al-Attas meakukan rekonseptualisasi Pendidikan Islam
dengan merumuskan Pendidikan Islam Konsep Ta’dib.
Syeikh Al-Attas
memaknai Ta’dib adalah konsep pendidikan Islam yang bertujuan mencetak
manusia beradab. Ide Syeikh Al-Attas tersebut dilatarbelakangi oleh krisis ilmu
yang dialami kaum muslim kontemporer. Menurut Syeikh Al-Attas, tantangan
terbesar yang dihadapi dunia muslim kontemporer adalah kesalahan dibidang ilmu.
Hal tersebut mengakibatkan hilangnya adab (the loss of adab). Kehilangan
adab di sini maksudnya kehilangan identitas, identitas ilmu-ilmu keislaman dan
identitas ilmuan muslim.
Syeikh Al-Attas melihat bahwa adab merupakan salah satu misi utama yang
dibawa Rasulullah yang bersinggungan dengan umatnya. Dengan menggunakan term
adab tersebut, berarti menghidupkan Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah
sebagaimana sabdanya:
“Tuhanku telah mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib)
yang paling baik (HR. Ibn Hibban).
Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin
mengkaji lebih dalam tentang pemikiran Syeikh Muhammad Naquib Al-Attas tentang Konsep Pendidikan Ta’dib
tersebut dan memfokuskan penelitian dengan judul: “Pendidikan Konsep Ta’dib Menurut Syeikh Muhammad Naquib Al-Attas.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar