Jumat, 02 November 2012



Pemikiran Muhammad Naquib Al-Attas Mengenai Pendidikan Islam
(sebuah Sinopsis Pengantar)
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam memajukan suatu peradaban. Dengan adanya proses pendidikan tersebut akan membantu masyarakat sekitar untuk melakukan evaluasi serta reaktualisasi diri terhadap konsep, sistem atau kebiasaan yang telah berlaku dalam lingkungan-lingkungan kecil, kumpulan masyarakat bahkan dalam suatu negara. Pendidikan juga mengajarkan sikap dan tingkah laku manusia dalam menjalankan kehidupan.
Pendidikan dapat juga dimaknai sebagai proses panjang dalam rangka mengantarkan manusia menjadi seseorang yang memiliki kekuatan intelektual, emosional, spiritual dan humanis sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya dalam segala aspek yang dijalaninya. Pada mutakhir ini, lembaga pendidikan Islam maupun umum terasa sedang mengalami problematika pendidikan yang sangat komplek dan berat. Semua itu seiring dengan zaman yang juga berkembang pada kalangan masyarakat zaman sekarang ini. Ketika globalisasi begitu mendunia, bukan hanya fenomena biasa yang dihadapi oleh dunia pendidikan, tetapi sudah membicarakan bagaimana manusia terdidik memfungsikan dirinya dalam menghadapi globalisasi tersebut.
Islam sebagai salah satu agama rahmatan lil ‘alamin juga mengajarkan kepada pemeluknya agar selalu berprilaku baik yang memiliki adab dalam segala tindak tanduknya, semua terbukti dengan adanya pelajaran mengenai adab berpakaian, adab makan dan minum, adab bertamu, adab berbicara, adab bergaul, adab sesama manusia serta pelajaran yang berkaitan dengan adab lainnya.
Syariat Islam tidak akan di hayati dan diamalkan orang (manusia) kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan. Nabi telah mengajak orang untuk beriman dan beramal sholeh serta berakhlak yang baik sesuai ajaran Islam dengan berbagai metode dan pendekatan. Dari satu segi kita melihat, bahwa pendidikan Islam itu lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan (Darajat, 2011: 28)
Di era sekarang ini, dalam kehidupan sehari-hari tidak sedikit kaum muslimin yang beradab dan berprilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islami. Sebagian dari mereka sudah kehilangan adab dan sopan santunnya, sehingga akan menjadi penyakit-penyakit sosial dalam masyarakat. Padahal, Islam telah mengatur dengan jelas tuntutan dalam berakhlak, beradab dan berprilkau sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Sebagai ummat nabi Muhammad SAW, ada tuntutan bagi kita untuk bertingkah laku sopan dan memiliki adab dalam melakukan segala aktifitas. Terutama di zaman modern sekarang, untuk menentang hal-hal yang menghanyutkan akhlak, aqidah dan adab mereka. Jika aqidah, akhlak dan adab kita lemah, maka kita akan terbawa dan menjadi korban oleh modernisasi zaman, dan akhirnya adab prilaku baikpun akan menghilang hanyut dibawa arul modernisasi itu.
Masyarakat modern telah berhasil mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih, namun disisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih tersebut tidak mampu menumbuhkan moralitas yang mulia, bahkan terjadi penyimpangan dari aqidah benar. Penyimpangan dari aqidah yang benar  adalah kehancuran dan kesesatan. (Shalih fauzan, 2008: 8)
Kita sama-sama memahami bahwa bagaimana tingkah laku dan kebiasaan generasi muda Islam sekarang akan menentukan nasib perjuangan Islam di kemudian hari. Melihat keadaan adab dan akhlak masyarakat Islam yang berada di posisi keterpurukan, maka perlu reaktualisasi dan rekonseptualisasi pendidikan Islam dalam bentuk Pendidikan Islam berbasis konsep adab.
Syekh Muhammad Naquib Al-Attas juga gelisah dengan terjadinya krisis ilmu dan keterpurukan adab pada generasi muda Islam. Untuk mengobati kegelisahan itu Syeikh Al-Attas meakukan rekonseptualisasi Pendidikan Islam dengan merumuskan Pendidikan Islam Konsep Ta’dib.
Syeikh Al-Attas memaknai Ta’dib adalah konsep pendidikan Islam yang bertujuan mencetak manusia beradab. Ide Syeikh Al-Attas tersebut dilatarbelakangi oleh krisis ilmu yang dialami kaum muslim kontemporer. Menurut Syeikh Al-Attas, tantangan terbesar yang dihadapi dunia muslim kontemporer adalah kesalahan dibidang ilmu. Hal tersebut mengakibatkan hilangnya adab (the loss of adab). Kehilangan adab di sini maksudnya kehilangan identitas, identitas ilmu-ilmu keislaman dan identitas ilmuan muslim.
Syeikh Al-Attas melihat bahwa adab merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan dengan umatnya. Dengan menggunakan term adab tersebut, berarti menghidupkan Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabdanya:
“Tuhanku telah mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling baik (HR. Ibn Hibban).
Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengkaji lebih dalam tentang pemikiran Syeikh Muhammad Naquib Al-Attas tentang Konsep Pendidikan Ta’dib tersebut dan memfokuskan penelitian dengan judul: “Pendidikan Konsep Ta’dib Menurut Syeikh Muhammad Naquib Al-Attas.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar