Si
Sulung Dan Si Bungsu
Oleh
: Ismail syakban, SM Al-Minang Kabawy
Pertama, Sulung dan bungsu
Pada
suatu desa di Sulit Air, hiduplah suatu keluarga yang sederhana, keluarga yang
tinggal di desa Linawan Ilir itu terdiri dari ayah, ibu, dan dua anaknya
(Bungsu dan Sulung) keluarga ini hidup dengan sederhana, bahagia, damai dan
tentram. Kehidupan sehari-hari keluarga ini juga sederhana, ayah yang kesehariannya
menghabiskan waktu untuk ke ladang yang terletak tidak terlalu jauh dari
rumahnya dan ibu membantu-bantu ayah kesawah dan keladang. Sedangkan si Bungsu
dan si Sulung masing-masing berumur enam (6) dan delapan (8) tahun, sekarang si
Sulung duduk di bangku kelas 1 SDN 14 Ganting Dodok Sulit Air, dan si Bungsu
masih mengikuti ibu dan ayah kesawah dan keladang, setiap sepulang sekolah si
sulung menghabiskan waktu untuk mengembala si Pengka (nama kambingnya).
Dari
hari ke hari keluarga yang sederhana ini hidup dengan bahagia tanpa ada masalah,
sang bapak mengajarkan anaknya menjadi anak yang shaleh, baik, suka menolong,
dan juga kedua orang tua ini memesankan kepada anaknya agar meneruskan
pendidikan sampai sekolah yang setinggi-tingginya, meski apapun yang terjadi.
“Nak…hanya
kalian yang akan melanjutkan perjuangan ibu/bapak kalian ini, seandainya nanti
ibu/bapak telah tiada, kalian harus bisa jaga diri kalian sendiri, mandiri dan ibadah
jangan kalian tinggalkan sekolah dan usahakanlah untuk melanjutkan sekolah,
agar kalian menjadi orang yang berguna bagi orang banyak..” Itulah bunyi pesan
yang dikatakan oleh sang ayah kepada si sulung yang masih berumur 8 tahun itu.
“emangnya
ibu dan bapak mau kemana??” jawaban si Sulung
“ibu
dan bapak tidak akan kemana-kemana, insyaAllah ibu dan bapak akan selalu
bersama kalian,,” Sambil memeluk si sulung ibu berkata demikian yang diiringi
dengan curahan air mata, tak lama kemudian sang ayah menambahkan :
“sulung,
kamu yang harus merawat dan menjaga adikmu…”
“nanti
kalau ibu/bapak pergi, sulung dan bungsu jangan ditinggalkan ya..!!” itulah
jawaban dari anak yang belum terlalu paham terhadap kata-kata orang tuanya itu.
Waktupun
telah larut malam, waktunya si sulung tidurpun sudah datang, si ibu
mendendangkan si sulung dengan lagu dan suara yang merdu, sehingga si sulung
tertidur disebelah si bungsu, dengan penuh kasih sayang ibu mencium kedua
anaknya kemudian ibupun tidur karena sudah kecapekan seharian bekerja diladang
bersama ayah.
Malamnya,
keluarga itupun tertidur lelap pulas, jarum jam terus berputar, sampailah pada
waktu subuh ibu lebih dahulu bangun dan memasak nasi serta mempersiapkan
sarapan pagi untuk anak dan suaminya. Dari kubah mesjid Baitullah yang tinggi
dan jauh terdengar suara azan subuh berkumandang, sang ibupun membangunkan
kedua anak dan suaminya untuk melakukan shalat subuh secara berjamaah. Setelah
shalat subuh si sulung dan si bungsu mencium kedua tangan orang tuanya dan tak
lupa ibu Munah juga mencium tangan suaminya, karena kebiasaan itulah yang
membuat keluarga itu selalu hidup bahagia, damai, dan sejahtera.
Sambil
menunggu waktu untuk bersiap-siap beraktifitas sang ayah mengajarkan kedua
anaknya membaca Al-qur’an, sedangkan ibu menghidangkan masakan yang telah
dibuatnya subuh-subuh tadi sebelumnya. Matahari pagi sudah mulai menampakkan
dirinya, ibupun mulai mengurusi si sulung yang akan berangkat sekolah dan ayah
hanya duduk sambil menikmati secangkir kopi buatan istri tercinta berdua dengan
si bungsu.
Waktunya
untuk sarapan pagi telah datang, dengan lahap si sulung makan masakan ibu
Munah, sedangkan ayah dan sibungsu mengambil satu piring berdua karena sibungsu
tidak mau makan kalau tidak berdua dengan sang ayah. Setelah sarapan pagi
selesai si sulung berangkat sekolah dan tak lupa mencium tangan kedua orang
tuanya.
“buk,,
ayah,, saya berangkat sekolah ya…” sambil mencium tangan ayah dan ibunya.
“hati-hati
ya nak, jangan nakal dan belajar yang rajin ya….” Pesan sang ibu.
“oh
ya.. lung,, nanti jangan lupa gembalakan kambingmu ya……”
“ya
ayah…..” ulung berangkat ya… “Assalamu’alaikum…..”
“Wa’alaikumussalam….” Jawab kedua orang tua
itu.
Setelah
keberangkatan si sulung kesekolah, ibu dan ayah juga berkemas-kemas untuk pergi
keladang, si bungsupun tidak ketinggalan untuk mengemaskan dirinya, si bungsu
malah lebih dulu memasang topi, baju yang panjang lengannya dan telah memasang
sandalnya serta telah menunggu didepan pintu.
Ibu
Munah dan ayah telah selesai berkemas dan siap berangkat keladang, ibu Munah
telah membungkus nasi, sambal dan tidak lupa mukenah untuk shalat karena
berangkat pagi dari rumah pulangnya nanti sore saja. Makanya kalau mencari ibu
Munah atau suaminya kerumahnya siang hari tidak akan bertemu, tapi kalau
dilihat malam atau pagi sekali mereka pasti dirumah, jadi kalau tidak ada
dirumah lihat keladang pasti ada.
Dalam
perjalanan keladang, sibungsu bertanya pada ibunya..
“mandeh… ambo bilo sekolah??” (buk… aku
kapan sekolah??)
“yuang… bungsu masih ketek baru, umua buyuang
alun cukuik untuk masuak sekolah lo..” (nak… kamu masih kecil, umurmu belum
cukup untuk masuk sekolah)
“tapi buyuang nio sakolah lo caka uda ulung…”
(tapi aku juga pengen sekolah seperti kak sulung)
“iyo.. lai tau mandehnyo, tahun bisuak
buyuang masuak sakolah yo.. jadi buyuang bisuak pai samo uda ulung yo… kini
buyuang ikuik jo mandeh ajo dulu, tolong mandeh jo abak karajo di ladang yo
nak..” (iya.. ibu ngerti kok, tahun besok kamu masuk sekolah ya.. jadi
besok itu kamu berangkat bareng kakakmu, sekarang kamu ikut ibu saja dulu,
tolong ibu dan ayah kerja diladang ya..)
“asyik,,, awak sakolah. . . . . . “
(asyik… kita sekolah) dengan perasaan senang.
Itulah
kata bungsu pada ibunya saking tidak sabar pengen masuk sekolah, setelah
mendengar jawaban dari ibunya itu si bungsu senang sekali.
Tanpa
terasa perjalananpun berakhir dan sampai di tujuan, ibu Munah dan si bungsu
sampai di ladang dan mulai melubangi kalang yang akan ditanami kacang panjang,
sedang sang ayah masih diperjalanan sambil menyandang cangkul di bahunya.
Jarum
jam terus berputar, waktu terus berlalu tak terasa jam telah menunjukkan pukul
08.20 WIB, waktu segitu adalah waktu si sulung memasuki pelajaran sesi kedua di
sekolah. Si sulung di sekolah sangat disayangi oleh guru, sulung rajin belajar
dan selama dalam proses belajar nilainya paling tinggi terus, si sulung pinter
dalam berhitung (penjumlahan dan pengurangan) sehingga setiap pertanyaan guru
bisa dijawabnya dengan benar. Dalam masalah struktur keluarga si sulung juga
jauh berbeda dengan murid-murid lainnya. Sulung berasal dari keluarga miskin
yang keseharian dari orang tuanya adalah keladang dan kesawah. Berbeda dengan
murid-murid yang lainnya, mereka berasal dari keluarga konglomerat, kelurga
kaya sehingga mereka kesekolah memakai pakaian yang bagus, sedangkan si sulung
berpakaian jelek, kusam dan sebenarnya pakaian yang tak layak untuk dipakai,
tapi meskipun demikian otak si sulung disekolah sangat layak untuk dipakai
serta si sulung tetap semangat untuk sekolah meski keadaannya demikian.
Meski
keadaan sulung demikian, sulung tidak pernah pilih-pilih dalam mencari teman.
Meskipun orang miskin atau kaya dimata sulung semua itu sama adalah sahabatnya
semua dan teman-temannyapun juga seperti itu tidak pernah pilah-pilih dalam
mencari teman. Si sulung karena kepintaran dan kebaikan hatinya, dia disenangi
guru, teman-teman, ibu kantin dan masyarakat tak lupa orang tuanya sendiri.
Pada
waktu bel pulang telah berbunyi semua muridpun berhamburan keluar kelas dan
pulang kerumah masing-masing, dalam keasyikan berjalan sendiri si sulung
dihampiri oleh dua orang temannya yang bernama Rizki dan Zainal.
“Lung,, ang lansuang baliak?” (lung,,
kamu lansung pulang?) Tanya Riki
“iyo,, ambo torui baliak, ambo nak ngaluaan
kambiang lansuang kabalo di ladang mandeh ambo….. mang baa duh?” (iya,,
saya terus pulang kerumah, saya mau ngeluarin kambing dan saya mau gembalakan
di ladang ibu saya…. Memangnya ada apa?)
Mendengar
jawaban si sulung, zainal mengajak si sulung untuk melakukan sesuatu.
“pai baronang wak yok!!” (berenang yuk!!)
“baronang,,??kalian nio baronang dimaa??”
(berenang,,??kalian mau berenang dimana??)
“dibuak Nona, itu dibawah sakolah wak tu ha,
tompek jalan ka Alai tu..” (di lubuk Nona, yang tempatnya dibawah sekolah
kita itu, tempatnya di jalan menuju ke Alai itu loh..) Riki menjelaskan kepada
si sulung.
“oh… lubuak itu,,,,,, tapi ambo dak bisa
ikuik loh, kalian ajo yang pai yo, ambo harus copek baliak, nak ngaluaan
kambiang ambo, sory yo, kanlai dak baa lo kan??” (oh,, lubuk itu, tapi aku
gak bisa ikut, kalian aja yang pergi aku harus lansung pulang harus
mengeluarkan kambingku, maaf ya,,,, gak apa-apakan??)
“yo,,, dak baa lo…..” (ya,, gak apa-apa
kok..)
Setelah
percakapan itu selesai sisulung meninggalkan Riki dan Zainal yang akan pergi
berenang ke lubuak nona. Sulungpun lansung pulang kerumah, sesampai dirumah
sisulung mengganti baju dan lansung membawa si pengka (kambingnya) keladang.
Seperti
itulah kegiatan sisulung setiap hari, menghabiskan waktu setelah sekolah dengan
gembala kambing. Sulung tidak pernah membantah dan melanggar kata-kata atau
perintah dari kedua orang tuanya. Setelah melepaskan ikatan kambing dikandang,
sisulung mengiringi kambingnya keladang.
“ussssss,,,, ussssss,,,,, ussssss,,,,,,”
“mbeeeeek,,, mbeeeeeek,,, mbeeeeek,,”
Setiap
kambing dikeluarkan dia pasti jawab-jawaban dengan sulung, setiap sulung bilang
“ussss,,,,”, sikambing menjawab “mbeeeek,,,,” sulung terus berjalan mengikuti
lenggak lenggoknya kambing. Ketika sedang asyiknya menanam kacang, diladang ibu
munah mendengarkan suara kambing, berarti sulung akan datang dengan kambingnya.
“pak, tuh sulung lah tibo jo kambiangnyo ha,,,” (pak,, itu sulung sudah datang sama kambingnya)
“suruah kobek an kambiangnyo tuh suruah nyo
baronti luh,, mungkin nyo tadi dirumah
dak makan” (suruh talikan kambingnya,
terus suruh dia istirahat dulu, mungkin dia tadi tidak makan dirumah)
Jawaban
dari bapak sekaligus menyuruh istirahat si sulung, dan ajak makan bersama tapi
biasanya sebelum makan, azan zhuhur pasti berkumandang. Dari jarak yang lumayan jauh, dari lereng bukit ibu
munah teriak kepada anaknya
“lung,,, lung,,, kobek an kambiang ang disitu
ha,,, tu kamari lang,,” (lung,,
lung,, ikatkan kambing disana, terus lansung kesini) teriak ibu pada sulung
sambil menunjuk pada sawah yang kosong tempat mengikatkan kambingnya.
“yo,,, jadi” jawab sulung dengan suara teriak juga. (ya,, buk,,)
Sulungpun
melakukan perintah dari ibunya, setelah selesai sulung menghampiri tempat
pemberhentian itu, ayah dan sibungsu sudah menunggu disana. Sesampainya
sisulung disana,,
“Assalamu’alaikum” sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
“wa’alaikum salam” jawab kedua orang tuanya.
Belum
lama setelah sampai sisulung, terdengarlah suara azan dari kubah mesjid Darul
Hikmah Lokuak, azan yag dikumandangkan oleh garim mesjid yang bernama Rusdi
Arif. Sang ayahpun mengajak anak dan istrinya shalat berjamaah, dan ibupun
mengajak kedua anaknya berwudhu, kemudia disusul oleh ayah. Merekapun
melaksanakan shalat jamaah ditempat pemberhentian itu, akhirnya dari shalat
jamaah mereka lanjutnya dengan makan siang bersama.
0------------0OOO0-----------0
Kedua,
Nasehat orang tua
Siang
hari itu, ketika matahari bersinar terang dan panas menyinari bumi jagat raya
ini, di SDN 14 ganting dodok yang terletak di Jorong Bali Nagari Sulit Air itu
terlihat sepi karena murid-murid sudah pada pulang kerumah masing-masing. Jika
dari SD itu ditelusuri jalan menurun kebawah dibagian barat, maka telihat
pemandangan yang indah, akan terlihat sebuah lereng yang hijau, daratan yang
dipenuhi oleh sawah-sawah yang siap tanam. Pada kaki sawah itu akan terlihat
sungai yang airnya mengalir deras, pada sungai itu terlihat sebuah lubuak. Lubuak
yang terletak ditepi jalan menuju Alai itu disebut dengan Lubuak Nona. Kenapa
disebut dengan lubuak nona? Asalnya dulu ada seorang nenek yang bernama nenek Nona
tinggal dilereng bukit yang hijau itu, nenek itu adalah warga Alai, nenek itu
yang selalu mandi, nyuci pakaian, piring dan selalu menggunakan air sungai sesuai
dengan fungsinya. Dan aktifitas nenek itu dilihat oleh orang banyak yang selalu
lewat dan lalu lalang dilubuak itu, sehingga sampai sekarang lubuak itu disebut
dengan Lubuak Nona meskipun sekarang nenek Nona itu sudah meninggal dunia.
Dilubuak
itu terlihat dua orang bocah yang sedang asyik berenang sambil main air, kedua
bocah itu adalah temannya sulung yang mengajak berenang sebelumnya yaitu si
Riki dan si Zainal. Keduanya saking asyiknya bermain dan berenang mereka telah
lupa dengan shalat, dan mereka juga tidak menghiraukan bahwa orang tua mereka
sedang risau Karena mereka belum juga pulang kerumahnya masing-masing.
“Nal,, main koja-kojaan wak lah !!!” (Nal,, main kejar-kejaran yuk !!!)
“pek lah, tapi syarate, awak harus dapek kapalo lah..!!” (ayo, tapi syaratnya kita harus dapat kepala
ya,,!!)
“ok,, peklah suit dulu, sia yang kalah nyo
yang njadi lah,,,” (ok,, ayo suit dulu, siapa yang kalah dia yang ngejar
duluan yach,,)
“setuju,,,,,,” semangat si Zainal.
Itulah
yang dilakukan kedua anak itu, mereka main kejar-kejaran sambil berenang
didasar air, setelah suit yang dimenangkan oleh Riki mereka berkejar-kejaran
sambil tertawa ceria, tanpa menghiraukan orang tua mereka yang sedang sibuk dan
pusing mencari mereka. Jika kita kembali kepada orang tua mereka, ibu Reni
(ibunya Zainal) telah pusing dari tadi karena anaknya belum pulang-pulang juga,
pada waktu hampir petang, ibu Reni menemui sulung, ingin menanyai si Zainal
anaknya :
“Lung,,, jam bara ang baliak tadi??” (lung,, kamu tadi pulang jam berapa??)
“sabalun zuhur makwo, mang baa duhh………..” (sebelum zuhur, memangnya kenapa….)
“Lung, ado coliak zainal, anak uwo sampai kini
alun juo baliak-baliak do..”
(kamu lihat zainal gak, sampai sekarang dia belum balik-balik juga..)
“eee,,,,, eeee,,,,,,” . sulung kebingungan ingin mengatakan hal yang
sebenarnya atau tidak pada ibu zainal.
“katoan eelah lung, dimanyo??” (bilang aja lung, dimana dia??)
“iyo makwo, tadi Zainal jo Riki pai baronang ka
buak nona, tadi ambo diajaknyo tapi ambo dak pai lo, tu nyo pai baduo jo Riki ka
sinan.” (iya, tadi Zainal dan Riki pergi
berenang ke lubuak nona, tadi aku diajaknya tapi aku gak mau dan dia pergi
berdua bersama Riki kesana)
Mendengar
penjelasan dari sulung itu, ibu Reni lansung terkejut dan kaget sekali.
“Astaghfirullahal’azim…….. zainal.!!!! Mokasi yo
lung,” (makasi ya lung,,)
“Yo makwo, samo-samo” (ya, sama-sama)
Setelah
mendapatkan informasi, ibu Reni lansung baik kanan dan meninggalkan ladang si
sulung. Ibu Munah yang jauh dari sulung dari situ memperhatikan apa yang sedang
dibicarakan mereka berdua. Setelah ibu Reni pergi meninggalkan sulung ibu Munah
kembali menanam kacang kelubang yang telah dibuat oleh ayah sulung, dan
sulungpun melanjutkan permainannya bersama si bungsu.
Tidak
jauh dari ladang si sulung, ibu Reni bertemu dengan ibu Piani (ibunya Riki)
yang juga sedang pusing mencari anaknya yang belum balik-balik juga.
“Tek,,, tek,,, tek piani, kapai kama?
Tagageh-gageh bana?” (buk,,, buk,,, buk
piani, mau kemana? Kelihatannya buru-buru sekali?)
“ikoha,,, si Riki alun juo
baliak-baliak dari tadi lai lo,,” (ini buk, Riki
anakku belum balik dari tadi)
Mendengar kata dari ibu Piakni, buk Reni lansung menjelaskan kepada
buk Piakni, tentang informasi yang didapatnya dari Sulung. Ibuk Reni telah
menjelaskan panjang lebar semuanya kepada Buk Piakni. Mendengar penjelasan itu,
ibu piakni lansung berkata :
“Masyaallah,,, Riki,,, ketek
baru, lah pandai pai malala…….” (Riki, masih kecil,
sudah bisa main jauh-jauh)
Lalu buk Piakni mengajak buk Reni untuk melihat sekaligus menjemput
anaknya ke buak nona tersebut, dan buk Renipun mengiyakan ajakan dari buk
Piakni. Dan kedua ibu itupun berangkat ke buak nona.
Sejenak kita mengalihkan pandangan ke buak nona, ditengah keasyikan
mereka bermain, salah satu dari mereka baru menyadari kalau mereka telah
terlalu lama bermain ditempat itu.
“Nal,,, lah nal,,, lah lamo
awak main ma,,, jam bara hari ko,? Baliak wak lai,,” (nal, dah lama kita bermain disini, dah jam berapa ini, balik
yuk,,!!)
“Bonta lai la,, ko main masih
lamak haa,,,” (bentar lagi lah, ne masih asyik ne mainnya,,)
“lah nal, ayo balik,,,,” (sudahlah, ayo balik,,) ajak riki bersikeras.
“jadina,,,,,” (ayok,,) Zainal mengalah kepada Riki, merekapun memasang baju mereka.
Tidak terasa bahwa mereka telah main di buak nona selama 3jam dan telah
meninggalkan shalat Zuhur. Ditengah kerjaan mereka memasang baju, dari atas
terdengar teriakan dari suara wanita yang lumayan tua, yang suaranya
menggambarkan bahwa dia akan marah, perempuan itu adalah ibuk Reni yang
berteriak memanggil anaknya.
“Inal,,,,,,,!!!!!!, baliak
capek, sia yang majaan ang malala,??” (inal,,,, cepat
balik, siapa yang ngajarin kamu berbuat kayak gini,??)
Mendengar teriak itu, kedua anak itu kaget, dan terlihat mereka salng
berbisik-bisik
“tukan aa kecek ambo, kalau awak tu lah terlewat
waktu ee.”(Tu kan, apa ku bilang, kalau
kita sudah terlewat waktunya). Sesal Riki pada Zainal
“iyo,,,iyo,,, tu kini nak manga lai, tu amak awak
lah tiboloh manjapuok haa,,,”
(iya,, terus sekarang mau gimana, itu ibuku dan ibumu dah datang mau menjemput..)
jawab Zainal
“makonyo copeklah,,,” (makanya cepatlah,,) suruh Riki pada Zainal
Tidak
lama kemudian, setelah mereka berbisik, terdengar lagi suara teriakan dari
atas, yang memanggil nama Riki.
“Riki,,,,,,, alun juo lai,,,??” (Riki,,, Cepatlah,,,!!!) suara buk Piani
memanggil anaknya.
Kelihatannya
kedua ibu itu marah berat, mendengar teriakan yang kedua ini, kedua anak ini
lansung bergesa-gesa memasang bajunya dan mereka bersegera menemui ibuknya yang
sedang marah-marah diatas tadi. Dalam perjalanan menuju keatas, salah satu dari
mereka tergelincir dan jatuh. Pahanya terluka dan mengeluarkan darah karena
tergores kelikir-kelikir kecil, dan salah satu dari mereka itu adalah Zainal.
Anak itu lansung berteriak kesakitan, sang ibu yang tadinya marah, perasaannya
berubah menjadi perhatian kepada anaknya karena musibah yang menimpa anaknya
itu, tapi buk Piani tetap memperlihatkan wajah marahnya pada Riki anaknya.
Dari
bawah terlihat Riki yang sedang mengiringi Zainal yang jatuh dipertengahan
jalan, setelah sampai ditempat ibu mereka, ibu Reni menyambut anaknya dengan
wajah yang bercampur antara marah dan perhatian sedangkan buk Piani menyambut
anaknya dengan wajah merah padam, dengan mempersiapkan satu batang kayu yang
akan digunakan untuk malocuikt atau
memukul Riki anaknya.
Buk
Reni : “malala juo lah nek lai,,,,”
(makanya jangan main-main terus,,,)
Buk
Piani : “siaa yang maajaan kalian babuek
mode iko,,?? (siapa yang ngajarin kalian berbuat kayak gini??)
Sambil
dipegang dan ditarik oleh ibuya, Riki menjawab dengan wajah pucat karena takut
melihat ibunya yang membawa sebatang kayu kecil.
Riki
: “ndak ado lo,,” (tidak ada)
Buk
Piani : “tu baa main-main mode iko kalian
gai,,??” (terus kenapa kalian berbuat kayak gini..??)
Buk
Reni : “lah ma tek piani, baoklah nyo
karumah lu,,” (sudahlah buk, mendingan mereka dibawa pulang dulu) ajak buk
Reni pada buk Piani
Riki
& Zainal : “moo kami buk,,,”
(maafkan kami buk,,,)
Mendengarkan
kata permohonan maaf dari kedua anak itu, kedua hati ibu itupun luluh, apalagi
ibuk Reni yang sebenarnya tidak tega lagi untuk memarahi anaknya. Akhirnya
kedua ibu itu mengiringi anaknya masing-masing pulang kerumah. Diperjalanan ibu
Reni berkata pada anaknya, nanti kalau dimarahi ayahnya jangan menjawab
apa-apa, karena pak Iban suaminya buk Reni sangat galak sekali. Bisa-bisa
anaknya dipukul habis-habisan. Buk Piani juga berkata demikian pada anaknya,
nanti kalau pak Inas suaminya buk Piani marah pada Riki, dia menyuruh Riki
untuk diam, karena pak Inas galaknya sama persis dengan pak Iban.
Sesampai
mereka dirumah masing-masing, Zainal lansung dimarahi habis-habisan oleh
ayahnya dan dipukulin oleh ayahnya.
“manga babaliak lo ang,,??” (ngapain kamu balik??) pertanyaan pak Iban pada
anaknya sambil memukul pantat Zainal dengan sebatang kayu kecil. Mendengar dan
melihat tingkah ayahnya, Zainal hanya bisa diam tertegun karena dia menyesali
perbuatannya. Sementara ayahnya terus memarahinya.
Jika
kita memandang ke pak Inas, dia tidak memarahi Riki, tapi dia hanya menasehati
anaknya, dia berkata pada anaknya bahwa untuk yang pertama ini Riki bisa
dimaafkan, tapi nanti jika terulang yang kedua kalinya maka pak Inas tidak akan
memaafkan. Pak Inas mengatakan jika Riki mengulang maka ayahnya akan menghukum
dengan mangobeken Riki ka batang sontu yang ado karonggonyo. Riki hanya
terdiam dan menyesali perbuatannya.
Sejak
kejadian itu, Zainal dan Riki merasa malu pada si sulung, karena si sulung
mengetahui kejadian yang menimpa mereka. Sejak itu mereka malah rajin belajar
dan sering ikut-ikutan sama si sulung dan merekapun mendapatkan nilai baik di
sekolah. Beberapa minggu kemudian mereka berubah, orang tua mereka senang
sekali melihat perubahan itu.
Itulah
akibatnya jika kita membangkang pada orang tua, pasti ada sesuatu yang akan
menimpa kita. Jadi kepada para pembaca, jangan sekali-kali kita melanggar pada
perkataan orang tua kita, terutama kepada adik-adik yang masih duduk dibangku
sekolah dasar. Kita harus patuh, taat kepada orang tua. Tidak mungkin orang tua
kita mengajarkan kepada kita hal-hal yang buruk. Lihatlah si Zainal dan Riki
karena membangkan kepada orang tuanya, mereka malah kena marah-marah dan telah
meninggalkan ibadah shalat zuhur.
0------------0OOO0-----------0
Ketiga,
Perjalanan sang ayah
Haripun
terus berganti, waktu terus berputar, bulanpun silih berganti, sehingga tibalah
pasa suatu pagi. Mentari telah mewujudkan dirinya untuk menerangi bumi. Suasana
cerah telah kelihatan, para manusia telah bangun dari tidurnya dan sebagian
sudah mulai beraktifitas, burung-burungpun telah berterbangan untuk mencari
makan.
Pagi
itu suasana rumah si sulung kelihatan seperti ada acara perpisahan, karena ayah
si sulung akan pergi kehutan bersama
teman-temannya untuk berburu rusa. Ayah sulung sudah berpakaian seperti seorang
buru, nasi yang berbungkuskan daun pisang dan di gulung dalam selayar (sapu
tangan) telah mengikat pinggang sang ayah, topi cowboypun telah menempel di
kepalanya dan teman-teman ayah sulungpun telah berkumpul disana.
“piak,,, uda pai baburu yo,,,, jago anak-anak
yo,,, insyaAllah beko sanjo uda lah baliak,,,” (buk, ayah berangkat berburu ya,, jaga
anak-anak. insyaAllah ntar sore) kata ayah minta izin kepada istri dan kedua
anaknya. Mendengar perkataan dari ayahnya si sulung dan si bungsu
sekonyong-konyongnya mendekati dan memeluk ayahnya seolah-olah mereka tidak
memberikan izin keberangkatan ayahnya itu. Sambil memeluk ayahnya si bungsu
berkata
“bak,, hati-hati yo,,,,” (yah,,, hati-hati ya,,,,)
Suasana
perpisahanpun selesai, ayah dan teman-temannya berangkat sedangkan ibu Munah
dan kedua anaknya melepas dengan pandangan yang sangat panjang kepada sang
ayah. Sulung melambaikan tangannya pada ayahnya, pandangan si bungsupun tidak
putus pada ayahnya sampai ayahnya hilang dari pelupuk mata.
Setelah
ayahnya berangkat, si sulung juga bersiap-siap untuk berangkat sekolah, ibu
Munah dan bungsu juga bersiap-siap untuk berangkat keladang
“Lung,,, beko jan lupo sipengka baok ka ladang
dihh,,,,,” (lung, nanti jangan lupa si
pengka dibawa ke ladang ya,,)
“ya ndeh,, insyaallah,, ulung barangkek yo,,,” (ya buk,, insyaAllah, ulung berangkat ya buk,,,)
sambil mencium tangan ibu munah dan memegang kepala adiknya.
Sekarang
rumah yang ada di gubuk itu telah kosong, yang tinggal hanyalah si pengka
karena belum waktunya untuk keluar. Ayah telah pergi berburu, ibu munah dan si
bungsu telah berangkat keladang dan si sulung telah berangkat ke sekolah. Dan
masing-masing mereka melakukan kesibukannya sendiri-sendiri. Seperti itulah
suasana rumah ibu Munah setiap harinya.
Jarum
jam terus berputar, mataharipun terus naik dan cuaca sudah mulai panas.
Tiba–tiba perasaan ibu Munah tidak enak gak karuan, pikirannya selalu terbayang
kepada sang ayah sehingga untuk kerjapun ibu Munah tidak semangat, lain dengan Sulung
di sekolah Sulung dengan mudahnya dapat menjawab soal-soal dengan cepat, sigap
dan benar, tiba-tiba dalam mengerjakan soal tersebut kotak pensilnya terjatuh
dari meja kelantai. Hal itu membuat si sulung terkejut dan pikirannya lansung
tertuju pada ayah, ibu dan adiknya. Dengan segera si sulung mengumpulkan
lembaran ujiannya kemudian dia berlari pulang tanpa berhenti sebelum sampai di
rumah.
Sesampai
di rumah, dia mengganti baju dan membawa si pengka ke ladang, sesampai di
ladang setelah mengikat sipengka di gurun dia menemui ibu dan adiknya dalam
keadaan cemas-cemas harap/arok-arok
cameh.
“ado apo ndeh,,?” (ada apa buk,,?)
“ndak baa lo lung, tibo-tibo pikiran mandeh ka
ayah kalian” (gak apa-apa lung,
tiba-tiba ibu ingat ayah kalian)
“tadi ulung mode ituloh maa..” (tadi sulung juga mengalami seperti itu juga..)
Sekonyong-konyongnya
si sulung menceritakan semua hal tadi kepada ibunya, ternyata ibu Munah dan
Sulung sama-sama memiliki firasat yang tidak enak pada sang ayah.
Bertolak
dari Sulung, buk Munah dan si Bungsu yang ada di ladang, kita lihat kejadian
yang terjadi di polak gotah disanalah tempat sang ayah dan teman-temannya
berburu rusa. Sekarang posisi sang ayah sudah berada di paling dalam Polak
Gotah tersebut, padahal waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dalam berburu
sang ayah semangat sekali untuk menghalau anjingnya, menyorakkan anjingnya yang
kejar-kejaran dengan rusa, tak hanya anjing ayah sulung saja ditambah dengan anjing
teman-temannya.
Dalam
keasyikan berburu satu dari mereka berkata :
“hei ngku,,,,!! Sumbahyang wak ciek lu lah,, akan
gei lu,, ponek loh awak dek ruso duh maa,,” (hei pak,,,!! Shalat dulu, makan, bikin capek kita saja rusa itu)
“oo yolah,,, muahlah,,,,” (ya udah,, ayolah,,,)
Rombongan
itu berhenti sejenak, mereka mencari tempat yang nyaman untuk makan dan shalat,
setelah mereka mendapatkannya merekapun shalat, selesai shalat mereka sama-sama
membuka bungkusan nasi yang telah dibungkuskan dari rumah tadi. Dengan lahap
mereka menghabiskan nasi yang harum karena dibungkus dau pisang itu.
Anjing-anjing merekapun juga tak lupa juga diberi makan.
Ketika
makannya sudah selesai, mereka melanjutkan berburunya dan jam telah menunjukkan
pukul 15.00 WIB. Semakin sore suasana berburu itu semakin asyik dan seru,
sampai-sampai kelompok itu berhasil membunuh seekor rusa yang telah dibunuh
oleh anjing-anjing mereka. Dan daging rusa itu rencananya akan dibagikan
setelah sampai dirumah nantinya.
Waktu
terus berlalu, malang dan musibahpun tidak dapat ditolak, pada saat jalan akan
pulang sang ayah dan teman-temannya melintas disebuah tebing tinggi yang
dibawahnya jurang. Pada saat melintas lokasi tersebut, tiba-tiba kaki kanan si
ayah menginjak sebuah tumpukan daun-daun kering yang mana daun itu tertumpuk
disebuah lubang yang dalam, dengan tidak sengaja si ayahpun menginjaknya, dia
kaget dan kaki kirinya terpeleset sehingga kedua kakinya sudah terjulur kedalam
jurang, dan tangannya cepat bergelantungan di sebuah batang yang tidak terlalu
kuat. Melihat kejadian itu teman-temannya lansung berusaha menolong, ayah Sulungpun
sudah teriak-teriak minta bantuan,,
“Allah huakbar. . . . . . tolong,,,,, tolong,,,,,” berkata-kata sambil bergelantung dipohon yang
tidak kuat itu, teman-temannya sudah berusaha untuk menggapai ayah sulung, tapi
sayang keburu pohonnya patah dan akhirnya ayah si sulung tidak dapat
diselamatkan dan jatuhlah ayah sulung kedalam jurang yang dalamnya + 2km
itu. Dalam jangka waktu yang singkat suara ayah si sulung sudah tidak terdengar
lagi, rombongannya tetap mencoba memanggil, tapi tidak jawaban dari dalam
jurang tersebut, yang terdengar hanyalah gema dari suara teman-teman si ayah.
Rombongan tersebut mencoba menelusuri jurang tersebut tapi terlalu dalam
sedangkan jam telah menunjukkan pukul 17.15 WIB.
Ternyata
jatuhnya ayah si sulung hinggap lansung ke sebuah batu besar, lebih parahnya
lagi kepalanya yang awal hinggap ke batu tersebut, semua tubuhnya bergelumam
darah, tulang-tulangnya patah, ditambah lagi dengan nyawa juga lansung melayang
seketika. Tidak lama setelah itu binatang buas yang ada dalam jurang tersebut
lansung mendekati dan merebutkan tubuh ayah si sulung yang sudah tidak bernyawa
tersebut, sekaligus ayah si Sulung menjadi mangsa binatang buas dalam jurang
tersebut.
Usaha
yang dilakukan oleh teman-temannya sia-sia saja, karena mereka tidak sanggup
untuk menelusuri jurang yang gelap dan seram itu, setelah setengah jam berlalu
dan tiada hasil, mereka kembali pulang dan membawa kabar buruk itu pada buk
Munah.
Dirumah
buk Munah sudah gelisah, karena waktunya pulang tapi suaminya belum juga
datang-datang. Buk Munah menunggu didepan pintu dengan kedua anaknya,
“ndeh… abak mano ndeh,? Kok alun tibo lai..? (buk, ayah mana buk? Kok belum datang?)
“sabar yo nak,, mungkin sabanta lai tibo, , ,” (sabar ya nakk,, mungkin sebentar lagi,,) sambil
memeluk dan membujuk anaknya yang sedih karena ayahnya belum pulang juga. Buk
Munah sudah menitikkan air mata dalam penungguannya yang pasti berakhir dengan
kesedihan karena sang ayah sudah meninggal dunia di dalam jurang yang penuh
dengan binatang buas.
Mataharipun
telah menyembunyikan wujudnya, sinarnya sedikit demi sedikit mulai menghilang,
suasana yang terang sudah mulai gelap rasa harap-harap cemas buk munah tidak
kunjung hilang, perasaannya selalu dihantui dengan oleh harapan kedatangan si
ayah kejaadian itu terus terjadi sampai azan maghrib berkumandang.
Shalat
maghribpun telah selesai mereka lakukan mereka juga belum mau makan karena
ingin makan malam bersama ayah. Buk Munah menyuruh kedua anaknya untuk makan
tapi mereka tidak mau, mereka hanya mau makan apabila bersama ayah, apalagi si Bungsu
yang maunya makan satu piring bersama ayahnya. Sekali 5 menit buk Munah melihat
ke ujung rumah berharap datangnya sang ayah tapi harapan seperti itu tidak
hasilnya.
Setengah
jam telah berlalu, 15 menit sebelum azan isya berkumandang, terdengarlah suara
jejak jalan kaki yang datang dari ujung rumah, suara jejak yang kira-kira lebih
dari satu orang. Mendengarkan suara itu buk Munah yang tadinya sedih dipenuhi
harap-harap cemas lansung berubah senang, Sulung dan Bungsu yang tadinya murung
berubah bahagia dan bersorak-sorak.
“hore, , , , , , , abak tibo, hore, , , , , , abak tibo,,,,,,!!!” (hore , , , ayah datang)
Kebahagiaan
kedua anak tersebut tidak dapat digambarkan lagi, buk Munah melanjutkan rasa
bahagianya dengan membukakan pintu supaya dia bisa melihat dengan jelas siapa
yang datang, orang yang datang itu makin dekat dengan pintu, buk Munahpun telah
membukakan pintu, ternyata setelah membukakan pintu senyum buk Munah berubah
menjadi sebuah rengutan, wajahnya berubah dan dia lansung memegang kedua
anaknya karena dia melihat 3 orang yang sama berangkat dengan sang ayah tadi
pagi, tapi ketika pulang sang ayah tidak bersama rombongan itu, melihat hal
seperti itu si Sulung heran dan menanyakan keberadaan ayahnya kepada sekelompok
orang tersebut.
“pak uwo, ,
, , maa abak ulung? Kok dak
samo-samo?” (pak, ayahku mana?
Kok tidak bareng?)
Belum
sempat sekelompok orang itu menjawab, mereka sudah dijatuhi pertanyaan lagi
oleh si Bungsu.
“Pak uwo, , , ,
maa abak kami,,??” ( pak, mana
ayah kami??) pertanyaan dengan suara yang cemas dan sedikit keras, melihat hal
seperti itu buk munah lansung mengambil alih suasana di pintu rumah itu dengan
mengajak masuk ketiga orang itu. Dengan suara yang lemah dan putus-putus buk Munah
mengajak masuk orang itu.
“yok pakk, masuak kadalam lu,,,!!” (mari pak, masuk dulu,,,)
“yo lah,,,, mokasi,,” (ya buk, terima kasih,,) sambil membuka sepatu
yang mereka pakai.
“pak, ado apo sabananyo, kok abak si ulung dak
ado samo ongku-ongku ko??” (pak, ada apa
sebenarnya, kok ayahnya sulung tidak bersamaan dengan bapak-bapak ini?)
“eee, , , , , eee, , , , , jadi , , , , , , , ,
,” (mereka bingung mau bilang apa)
“jadi apo pak,,?” (jadi apa pak?) buk Munah lansung melanjutkan.
Mendengarkan
pertanyaan yang sudah mendesak itu, salah satu dari 3 orang tersebut
menerangkan hal yang sebenarnya terjadi.
“tapi etek jan takajuik loh ndak, tolong etek
tahan walaupun apo yang ka kami sabuik ko, anak-anak etek tolong
dikendalikan..” (tapi ibu jangan
kaget, tolong nanti ibu tahan walaupun apa yang akan kami sampaikan ini,
anak-anak ibuk tolong dikendalikan..)
“memangnyo ado apo pak..??” (memangnya ada pak..??) pertanyaan buk Munah dengan
mata yang merah dan kerut dahi yang banyak.
Mendengarkan
itu, sekonyong-konyongnya satu dari mereka menceritakn semua hal-hal yang
terjadi pada ayah si Sulung. Panjang lebar mereka menceritakan semua hal itu,
buk Munah terkejut dan menangis sedangkan si Sulung dan si Bungsu menangis
sekuat-kuatnya sehingga buk Munah tidak sanggup untuk mengendalikan kedua
anaknya. Ketiga orang itu juga melantunkan permohonan maaf kepada buk Munah.
Buk Munah memeluk kedua anaknya dengan penuh sayang, ketika perasaan buk Munah dihantui
sedih yang tidak terduga, ingin rasanya buk Munah menyusul ke Polak Gotah untuk
menjemput dan melihat suaminya tapi apalah daya hari sudah malam.
Karena
tidak kuat untuk menahan tangis dan sedih, akhirnya buk Munah pingsan tidak
sadarkan diri, tangisan kedua anaknya semakin kuat sambil memanggil-manggil
ayah dan ibunya. Sedangkan salah satu dari 3 orang tersebut pergi minta bantuan
ke tetangga untuk menolong buk Munah.
Jatuh
pingsannya buk Munah berbarengan dengan dikumandangkannya azan isya yang
terdengar dari puncak mesjid Baitullah. pada malam itu setelah shalat isya
masyarakat yang tau tentang kejadian buk Munah lansung datang kerumahnya untuk
menjenguk dan menghibur buk Munah serta kedua anaknya. Malam harinya buk Munah baru
siuman sedangkan kedua anaknya masih duduk dan menangis disamping ibunya karena
tidak mau kehilangan ibunya setelah ayahnya tiada.
0------------0OOO0-----------0
Keempat,
buk Munah jatuh sakit
Semenjak
siuman, buk Munah hanya termenung dan memandangi anaknya akan kejadian kemaren.
Kejadian itu sangat memukul perasaan buk Munah dan kedua anaknya, dan membuat
Sulung libur sekolah karena merawat ibunya yang sedang sakit. Teman-teman
sekolah Sulungpun juga berdatangan, buk Guru Sulung dari sekolah juga
mengucapkan bela sungkawa dan duka cita pada buk Munah.
Semenjak
kejadian itu, selama satu minggu rumah buk Munah di penuhi oleh orang yang
berdatangan karena ingin berbela sungkawa dengan buk Munah dan kedua anaknya.
Selama waktu itu pula Sulung harus libur sekolah. Si Bungsu selalu bersama
ibunya, karena sangat trauma denga kejadian itu yang harus kehilangan ayah yang
paling dia sayangi, sekarang buk Munah harus lebih tegar lagi dalam menghidupi
dua anaknya.
Seminggu
telah berlalu, suasana rumah Sulung sudah mulai sepi karena tidak ada lagi
masyarakat atau tetangga yang berdatangan, aktifitas Sulung untuk sekolah juga
sudah mulai berjalan kembali sedangkan buk Munah dan si Bungsu juga sudah
memulai bekerja keladang meskipun tanpa keberadaan sang ayah. Buk Munah kerja
sendiri, mencangkul, melubangi, menanam, menyiram, membersihkan kalangnya
sedangkan si Bungsu hanya bisa menemani tapi tidak bisa membantu buk Munah
dalam melakukan pekerjaan di ladang. Buk Munah mendapatkan bantuan dari si Sulung
ketika si Sulung pulang sekolah.
Jarum
jam terus berputar, disekolah, teman-teman Sulung selalu menghibur Sulung.
Zaenal dan Riki selalu mengajak Sulung bermain bersama, agar Sulung tidak
terlalu terpukul dengan kejadian yang menimpa keluarganya. Setelah bel pulang
berbunyi, Sulung, Zaenal dan Riki mereka pulang barengan mereka berjalan sambil cerita-cerita lucon
sehingga membuat suasana tertawa sedangkan Sulung tertawa hanya dengan
menggoyangkan bibirnya sedikit saja. Sesampai dirumah si Sulung mengganti
pakaiannya dan lansung membawa si pengka ke ladang, sekaligus shalat zuhur dan
makan siang di ladang bersama ibu dan si Bungsu.
Pada
hari itu, si Sulung mengikatkan kambingnya di tempat yang banyak pohon-pohon
kecil, ditempat yang mana si pengka mudah “terkujut”, tapi si Sulung tidak
memikirkan tentang hal itu, pikirannya hanyalah makan dan shalat karena sudah
terlalu lapar serta terik matahari.
“Assalamu’alaikum ndeh,,,” (teriak sulung sesampainya di ladang)
“Wa’alaikumsalam,, baru pulang luang??”
“iyo ndeh,,” sambil duduk diperumahan tepi ladang
“Dimaa ulung ataan kambiang tadi,,?” (kambing dimana?) Tanya ibu Munah pada Sulung.
“Dibawah batang rambutan tu haa,,” (dibawah pohon rambutan) jawab ulung
“kiro-kiro lai dak di tompek yang ndak
takujuik,?” (kira-kira di
tempat yang mudah terkujut gak) tambahan pertanyaan dari Buk Munah yang cemas
dengan keselamatan kambingnya.
“mudah-mudahan indak,,” jawab sulung dengan tenang.
Tapi
apakah yang terjadi, yang Maha Kuasa kembali menguji kesabaran keluarga Sulung.
Setelah selesai makan dan shalat Zuhur, mandeh Munah kembali bekerja sampai
waktu Ashar. Ketika azan Ashar berkumandang, mandeh Munah mengajak kedua
anaknya untuk pulang.
“Lung, pailah lopeen kambiang ulung lai, lansuang
baok baliak yo,,!!” (Lung, pergi
lepaskan ikat kambingmu, lansung bawa balik ya,,!!) suruh mandeh Munah ke
Sulung
“iyo ndeh,,,,” jawab Sulung sambil menuju ketempat kambing yang lumayan jauh dari
ladang itu.
Sesampai
di tempat kambing itu, si Sulung heran dan terkejut melihat kambingnya yang
tidak bernyawa lagi, di duga karena talinya terkujut di pohon-pohon kecil itu. Dia lansung teriak sambil menangis
memanggil mandeh.
“mandeh,,,,,,, kambianglah mati,,,,!!!!!!” (ibu,,,,,, Kambiangnya mati,,,,!!!!)
“Astaghfirullah,,, mati baa kambiang duh,??” (Astaghfirullah,,, mati kenapa dia,,??) Tanya
buk Munah yang sangat kaget sekali.
“nyo takujuik di batang ko ha,,” (dia terkujut di pohon ini) sambil menunjuk
kesebuah pohon kecil tempat si pengka terkujut
Mendengar
itu, mandeh munah semakin terpukul dan dia membereskan mayat kambing itu dengan
Sulung. Sore itu juga mereka menggali lubang untuk menguburkan kambing itu
dengan ditemani linangan air mata mandeh dan Sulung menguburkan kambing itu.
Setelah semua selesai mereka lansung pulang kerumah. Si Sulung sangat terpukul
karena kehilangan binatang piaraannya, sedangkan mandeh munah sangat sedih, air
matanya “jatuh kedalam”, setelah kehilangan suami sekarang harus kehilangan
harta satu-satunya yang diharapkan sebagai penyambung hidup si Sulung dan si Bungsu
ketika dewasa kelak.
Waktu
terus belalu, pada suatu malam mandeh Munah sekonyong-konyongnya memandang
kedua anaknya yang sudah tidur lelap. Mandeh munah berpikir nasib kedua anaknya
itu tanpa ayahnya. Tiba-tiba mandeh munah berkata dalam hati:
“Pak, baa kok mode nasib keluarga awak? Baa caro
ambo mengasuh anak awak? Anak tapukua bana raso ee ma, lah hilang urang yang
nyo sayang, kini inyo harus kehilangan kambiangnyo lo, padahal kambiang tulah
untuak panyambuang hiduiknyo,” (pak,
kenapa seperti ini nasib kita? Bagaimana caranya untuk mengasuh anak kita?
Mereka terpukul sekali sesudah kehilangan orang yang mereka saying sekarang
harus kehilangan kambingnya, padahal kambing itu satu-satunya harta penyambung
hidup mereka.) sambil menangis mandeh berkata demikian dengan suara yang
putus-putus, air mata mandeh Munahpun jatuh ke pipi si Bungsu yang sedang tidur
terlelap di malam itu.
Malampun
berlarut, tanpa disadari setelah menangis mandehpn tertidur disebelah kedua
anaknya. Suasananya berbeda dengan yang biasanya, yang biasa ditemani sang ayah
sekarang mereka berkelumun dalam satu selimut dengan Sulung dan Bungsu.
Pada
suatu hari ketika, mandeh Munah saking kuatnya bekerja dan mencari nafkah
tiba-tiba jatuh sakit. Mandeh tidak kuat lagi untuk melakukan pekerjaan rumah,
apalagi untuk pekerjaan di ladang, mandeh Munah hanya bisa tidur dirumah dan
dirawat si Sulung dan si Bungsu. Mandeh Munah jatuh sakit betepatan dengan
ujian naik kelas si Sulung, mandeh Munah berpesan kepada si Sulung agar si Sulung
tetap ikut ujian naik kelas. Mendengarkan hal itu semangat si Sulungpun menyala-nyala
untuk ikut ujian. Ditengah kesibukannya mengurusi ibuknya dia juga menyempatkan
untuk membaca buku pelajaran, dan ditengah kesibukannya membaca buku
pelajarannya dia juga menyempatkan untuk menyuapi mandeh Munah kalau waktu
makan telah tiba. Kalau Sulung berangkat sekolah si Bungsu yang gantian merawat
mandeh Munah di rumah.
Sepulang
sekolah, Sulung memasak nasi buat makan malam. Si Bungsu yang menjaga ibu,
waktu menunggui nasi masak si Sulung dan si Bungsu duduk disamping mandeh Munah
dengan membawa buku pelajaran, disanalah mandeh Munah berpesan kepada Sulung dan
Bungsu.
“lung,
bapakmu sudah tiada, mandeh juga sudah sakit-sakit seperti ini, tiada yang lain
kecuali kamu sebagai tertua yang akan merawat adikmu, jangan sekali-kali kamu
tinggalkan ataupun berpisah dengan adikmu. Kasian nanti adikmu, seandainya nanti
mandeh telah tiada kalian jangan pernah brantem ya,, rawat adikmu dengan baik,
jaga adikmu, hanya kamu yang akan membela adikmu dikala dia diganggu oranglain,
didik dia ajarin dia ilmu pengetahuan karena dia belum mencoba sekolah
sepertimu,,”
Air
mata mandeh Munah jatuh berlinangan ketika berpesan demikian pada Sulung. Sedangkan
si Sulung menahan sekuat tenaga agar dia tidak menangis didepan mandeh Munah.
Si Sulungpun kembali kedapur, karena nasinya sudah mendidih (manggalogak),
ketika didapur itulah dia menangis terseduh-seduh teringat akan nasehat ayah
dan mandehnya, barulah dia merasakan betapa banyak pengorbanan sebagai orang
tua. Sambil mengacau nasi dia menangis sampai-sampai airmata sulung jatuh
kedalam adukan nasi.
Waktu
terus berlalu, jam terus berputar tibalah waktunya Sulung ujian naik kelas pada
hari terakhir. Sulung merasa lega karena ujiannya hampir selesai jadi dia bisa
lebih leluasa untuk merawat ibunya yang sakit. Dari awal mandeh Munah sudah
berpesan kepada Sulung untuk rajin belajar agar mendapatkan juara. Si Sulung telah
mengindahkan nasehat mandehnya itu dan dia telah menghadapi ujiannya yang
disertai dengan merawat mandehnya yang sakit, apakah ujian si Sulung berbuah
bagus atau tidak,?
Tibalah
saatnya hari penerimaan lapor, setelah menyuapi mandeh makan pagi, si Sulung pamitan
sama mandeh dan adiknya.
“ndeh,, ulung pai lu yo,, bungsu tolong jago
mandeh suok on mandeh makan,,,”
(buk, sulung berangkat dulu, bungsu jaga ibu ya, ntar suapin ibu makannya) suruh sulung pada si bungsu
“hati-hati yo lung,,,!!” jawab sang ibu, tiba-tiba pada pagi itu mandeh Munah
memeluk si Sulung dan mencium keningnya serta memeluk si Bungsu walaupun diatas
kasur itu, sulungpun mencium tangan mandeh Munah.
“Assalamu’alaikum,,,,,” ucap Sulung sambil keluar rumah
“wa’alaikumsalam,,,,” jawab mandeh dan si Bungsu
Pagipun
habis, siangpun telah mulai datang. Di sekolah sekarang semua siswa sudah
berkumpul dan merasa dek-dekan karena akan mengambil hasil pelajaran. Dalam
penerimaan lapor ini si Sulung ternyata berhasil. Dia kaget dan terkejut waktu
mendengarkan pengumuman dari buk guru ketika berbaris di halaman sekolah:
“untuk peringkat pertama, dengan jumlah nilai 45,30 dan nilai rata-rata 9,32 di raih
oleh anak kita yang bernama,,,,,,,, S U
L U N G,,,,!!!!!!!” Begitulah bunyi pengumuan dari ibu guru yang mana
pengmumannya di mulai dari kelas I, hal itu diumumkan setelah mengumumkan
peringkat III dan II
“kepada nama-nama tersebut, untuk maju ke depan” tambahan pengumuman bu guru yang mengumunkan hal
tersebut. Semua nama-nama yang disebut tadi dari kelas I sampai kelas VI maju
kedepan dan sulungpun sekonyong-konyongnya maju dengan hati senang dan gembira,
dan berharap hari ini akan menjadi berita gembira untuk mandehnya yang sedang
sakit. Setelah semuanya maju bu guru membagikan lapornya kepada anak-anak yang
mendapat juara tersebut. Sulung sangat senang sekali. Tapi apa yang terjadi di
balik semua kesenangan si sulung??
Hal
yang berlawanan terjadi dirumah, penyakit ibu semakin parah dan menjadi-jadi.
Sekarang buk Munah hanya bisa tidur dan memanggil-manggil kedua anaknya.
Masyarakatpun telah banyak berdatangan kerumah buk Munah, melihat keadaan buk Munah
seperti itu masyarakat sudah harap-harap cemas (arok-arok come) sedangkan si Bungsu
hanya menangis duduk disebelah ibunya sambil memanggil kakaknya, dalam keadaan
seperti itu buk munah masih sempat berbicara kepada si Bungsu dengan suara yang
pelan dan berbicara dengan lembut sekali;
“nak,, jago diri elok-elok yo,, baraja yang
rajin, sembahyang jan ditinggaan, bisuak usahoanlah mambangkik batang tarandam dek kalian baduo” (nak, jaga diri baik-baik ya, belajarlah yang
rajin, shalat dan ibadah jangan di tinggalkan dan usahakanlah untuk mambangkik
batang tarandam
Mendengarkan
perkataan seperti itu si Bungsu semakin menangis dan sangat takut akan
kehilangan ibundanya tercinta. Tidak lama kemudian, penyakit mandeh Munah semakin
menjadi-jadi dan mandeh Munah terus-terusan kesakitan dan si Bungsu duduk
memeluk mandehnya. Malang yang tidak dapat di tolak mandeh Munahpun berlalu
dengan tenang didalam pelukan si Bungsu. Si Bungsu menangis lebih keras lagi,
masyarakat mencoba menenangkannya tapi tidak sanggup, Bungsu terus memanggil
kakaknya si Sulung.
“da ulung, , , , , !!!!!!! mandeh lah maningga,,
, , , , , , , , “ (kak ulung,,,, ibu
sudah meninggal,,,,)
Ratapan
si Bungsu sambil tetap memegang mandeh Munah yang sudah ditutupi dengan kain
panjang.
Ketika
pulang sekolah, sesampai di ujung rumah Sulung dihantui oleh rasa heran karena
melihat sekumpulan orang banyak yang ada dirumahnya. Dia melihat kondisi
rumahnya sangat berbeda. Semua kursi dikeluarkan, semua jendela dibuka ditambah
lagi dengan adanya kibaran kain putih yang digantung diujung rumahnya. Rasa
penasaran Sulung semakin menjadi-jadi, dia mendekati rumahnya dan tiba-tiba ada
seorang ibu berkata padanya:
“nak, , , , yang saba yo nak. . .!! mudah-mudahan
ado hikmahnyo. . (nak,, yang sabar
ya nak, mudah-mudahan ada hikmahnya..)
Mendengar
semua itu si Sulung membuang buku dan tasnya dan dia berlari kepintu rumah,
melihat jenazah mandehnya yang terbujur dan tertutup kain panjang dia lansung
berteriak menangis sambil memeluk si Bungsu.
“m
a n d e h h h h h h, , , , , , , , , , , , , , ,!! ! ! ! ! ! ! !”
“mmaaaannnddddeeeeeehhhhhhhhhhh,,,,,,,,,,.
. . . . . . . . . . . . . .! ! ! ! ! ! ! ! ! ! !
Sulung
berkata sambil menangis:
“baa kok batinggaan kami baduo ndeh?? Indak ko sayang mandeh kakami lai?? Kama kami
kabagantuang lai?? Lah habih tampek kami bagantuang, lah runtuah sado tampek
kami bataduah. Kajadi apo kami ko mandeh?? (kenapa ditinggalkan kami berdua buk? Apakah gak sayang lagi ibu sama
kami? Kemana kami akan bergantung? Sudah habis tempat kami menggantungkan
nasib, sudah runtuh semua tempat kami berteduh, akan jadi apa kami ini
nantinya?)
Dia
memeluk jenazah ibunya sekuat-kuatnya, berteriak sekuat-kuatnya, karena dia
belum siap untuk menerima semua kenyataan ini. Tak lain tak bukan dia hanya
bisa menangis sambil memeluk si Bungsu. Masyarakat mencoba untuk menenangkan
kedua kakak beradik itu, tapi apakah daya si Sulung yang waktu itu masih
berumur 8,5 tahun hanya bisa menangis, menangis dan menangis.
Mulai
saat itu si Sulung harus menjaga adiknya, dan menjalankan pesan-pesan dari
orang tuanya, si Bungsupun tetap memeluk kakaknya dengan kuat, dia terus
menangis dan meratapi kepergian ibunya.
Tidak
lama kemudian, masyarakatpun sudah mulai mengurusi jenazah buk Munah untuk dimakamkan,
sedangkan si Sulung dan si Bungsu hanya bisa terdiam karena setelah kehilangan
ayah, mereka juga harus merelakan ibunya yang sangat dia cintai.
0------------0OOO0-----------0
Kelima,
Perpisahan yang harus dihadapi
Dalam
waktu satu, dua minggu, si Sulung dan si Bungsu belum bisa menerima kenyataan
atau cobaan yang menurutnya sangat berat ini. Mereka terus menangis,
seakan-akan mereka tidak ingin hisup lagi. Masyarakat sekitarpun masih menemani
si Sulung dan si Bungsu dirumahnya, buk Piakni yang bekerja memasakkan nasi
untuk si Sulung dan si Bungsu, Zainal dan Riki juga selalu mencoba menghibur
dan mengisi waktu-waktu sedih mereka.
Kini
tinggalah dua serangkai yang selalu dikerumuti kesedihan, mereka belum bisa
menghiraukan apa kata orang, isi perasaan mereka hanyalah sedih, karena setelah
kehilangan ayah, mereka juga harus kehilangan mandehnya. Dengan keadaan mereka
yang seperti itu, sesuai dengan syair minang yang menyebutkan:
Ampunkanlah.
. . . . oh Tuhan. . . , (Ampunilah oh Tuhan. . .)
Ayah
mandeh den. . . . . . , (Ayah
dan ibu ku. . .)
Jauahkanlah.
. . . . oh Tuhan. . . , (Jauhkanlah
oh Tuhan. . .)
S’galo
siksaan. . . , (Segala
siksaan. . .)
Sayangi kasihi cintoi. . . , (Sayangi, kasihi, cintai. .
.)
Dalam sarugo. . . , (Di dalam Surga. . .)
Bak cando baliau ka kami. . . , (Seperti mereka kepada kami. . .)
Maso hiduiknyo. . . , (Semasa hidupnya. . .)
Lindungilah.
. . . oh Tuhan. . . , (Lindungilah
oh Tuhan. . .)
Yatim
piatu. . . , (Yatim
piatu. . .)
Tunjuakkanlah.
. . . oh Tuhan. . . , (Tunjukilah oh
Tuhan. . .)
Jalan
nan luruih. . . , (Jalan
yang lurus. . .)
Jan sasek kakiko malangkah. . . , (Jangan Sesat kaki ini melangkah…)
Dalam hiduik ko. . . , (Dalam hidup ini…)
Jan biakan kami ko laruik. . . , (Jangan biarkan kami ini larut…)
Dalam sansaro. . . , (Dalam kesengsaraan…)
Yo
bak cando tuneh. . . , (Seperti
sebuah tunas…)
Nan
baru ka tumbuah. . . , (Yang
akan tumbuh…)
Di
tapi jalan. . . , (Di
tepi jalan…)
Sia
ka mamupuak. . . , (Siapa
yang akan memupuk…)
Antah
kok lai ado. . . , (Untunglah kalau ada…)
Turunnyo
hujan. . . , (Turunnya
hujan…)
Malang tak bamandeh. . . , (Malang tiada ada ibu…)
Sansai tak baayah. . . , (Sengsara tiada ada ayah…)
Kami tangguangkan. . . , (Kami tanggungkan…)
Untuang kok nyo isuak. . . , (Untunglah kalau besok-besoknya…)
Sananglai ka tibo. . . , (Senang akan datang…)
Syair
yang diciptakan oleh ayahanda Sexri Budiman tersebut menceritakan tentang
pahitnya kehidupan seorang anak tanpa kehadiran kedua orang tua. Apalagi si
anak yang masih berada dibawah umur yang memang perlu dan haus akan kasih
sayang dari orang tua.
Melihat
keadaan si Sulung dan si Bungsu seperti, sehingga membuat minat salah seorang
tetangga yang berjauhan rumahnya dari rumah Sulung untuk merawat dan menyekolahkan
si Sulung. Tetangga itu adalah buk Rosma Yanti, beliau merupakan salah seorang
guru di SMP Muhammadiyah Negara Batin Way Kanan Lampung. Buk Yanti ini sangat simpatik
sekali melihat keadaan kedua kakak adik ini.
Karena
kebingungan buk Yanti harus menemui dan berbicara dengan siapa, maka buk Yanti
lansung saja menyampaikan hajatnya kepada buk Piakni,
“buk Piakni, , , , , “ panggil buk Yanti dan mengawali pembicaraan
dengan buk Piakni.
“yo buk… ado apo buk..?” (ya buk, ada apa buk,,) jawab buk Piakni dengan
kaget.
“maliek keadaan Sulung jo Bungsu mode iko,
sangenek banyaknyo adolah raso ambo untuak mambaoknyo ka Lampung, bialah ambo
manyakolahan si Sulung tu, baa kiro-kiro buk?” (melihat keadaan Sulung dan Bungsu seperti ini,
sedikit banyaknya ada keinginan saya untuk membawanya ke Lampung, biarlah saya
yang menyekolahkan si Sulung itu, bagaimana kira-kira buk?)
“iyo buk. . . cubolah ibu tanyo ka Suluang tu…” (iya buk… coba ibu Tanya sama Sulung)
Mendengarkan
jawaban dari buk Piakni, guru salah satu sekolah Muhammadiyah di Lampung
tersebut lansung menemui si Sulung dan menyampaikan hal tersebut pada si
Sulung. Setelah mendengarkan cerita penyampaian hajat dan kenginan buk Yanti, si Sulung malah balik Tanya kepada
semua orang yang ada disana terkhususnya kepada buk Yanti,
“tu baa jo si Bungsu.??” (terus bagaimana dengan si Bungsu.??)
Mendengarkan
pertanyaan dari Sulung itu, semua orang yang ada disana terdiam dan kebingungan
menjawab pertanyaan si Sulung. Semua ibuk-ibuk disana saling melihat kiri
kanan, dan bertanya-tanya bagaimana dengan si Bugsu, apakah buk Yanti juga
membawanya atau tidak. Disaat semua kebingungan, tiba-tiba ada terdengar suara
dari salah satu ibu yang ada disana dan berkata:
“bia ambo yang merawatnyo..” (biarkan saya yang merawatnya..)
Mendengarkan
suara itu, semua ibuk-ibuk menjadi terperangan dan mencari-cari suara siapa
yang berkata tadi. Ternyata suara itu adalah buk SyahReniWati, salah seorang
pengasuh Panti Asuhan Yatim Piatu Muhammadiyah di kota Solok Sumatra Barat.
“bia ambo masuakkan si Bungsu ka Panti Asuhan,
InsyaAllah beko sagalo biaya bia ambo yang nangguang,,,” (biar saya masukkan si Bungsu ke Panti Asuhan,
InsyaAllah segala biaya saya yang nanggung..) lanjutan dari buk Wati menambahkan
pernyataanya diawal tadi. Suasana menjadi semakin rame, perasaan buk Piakni
semakin tidak enak untuk melepaskan si Sulung dan si Bungsu terpisah. Si
Sulungpun memeluk adiknya seolah-olah dia tidak mau lagi berpisah dah
kehilangan adiknya.
Si
Sulung selalu teringat kepada pesan kedua orang tuanya, bahwa dia tidak akan
pernah uhtuk berpisah dengan adiknya, di sisi lain si Bungsu juga bingung
menghadapi permasalahannya.
“da Ulung, apo iyo awak ka bapisah??” (kak Ulung, apa iya kita akan berpisah?) Tanya
bungsu pada kakaknya.
“dulu pasan mandeh jo ayah awak dak buliah
bapisah.” (dulu pesan ibu dan ayah kita
tidak boleh berpisah) jawab Sulung dengan di iringi hati yang sedih dan
terkenang kepada orang tuanya.
Waktupun
terus berlalu, hari berganti minggu, jarum jampun terus berputar tanpa
henti-hentinya mengelilingi angka-angka indah yang ada di jam tersebut. Malam
berganti siang Sulung dan Bungsu semakin bingung terhadap apa yang akan mereka
putuskan. Mereka sudah pasrah dengan keadaan, berat hati Sulung untuk
melepaskan dan berpisah dengan adik kesayangannya. Dia merasa berdosa karena
tidak bisa menjalankan amanat dari orang tuanya. Hal yang samapun dirasakan
oleh si Bungsu, si kecil yang masih berumur 6,5 tahun tersebut tidak ingi
berpisah dengan kakaknya yang sangat dia cintai.
Berbicaralah antara Sulung dan Bungsu dari hati kehati,
serius walaupun berat untuk
memutuskannya. Akhir pembicaraan mereka, bahwa mereka memutuskan untuk
berpisah dan berjanji akan berkumpul kembali di rumah yang mereka tinggalkan.
Mereka berbicara tidak terlepas dari linangan air mata yang selalu menemani
mereka semenjak musibah demi musibah yang menimpa mereka.
“ka baa juo lai diak, demi kelansungan jo
kebahagiaan awak maso kadatang, awak mang harus mode iko dulu. Kok dak mode iko
dak sonang iduik awak bisuak do, anta ka jadi apo awak bisuak awak dak tau lo.
Badoa jolah diak mudah-mudahan awak bisa bakumpua liak..” (mau gimana lagi dek, demi kelansungan dan
kebahagiaan kita dimasa yang akan datang, kita memang harus terpisah dulu.
Kalau kita tidak lakukan ini belum tentu kita senang pada masa akan datang.
Entah kita jadi apa nantiya kita tidak tau. Berdoalah dek mudah-mudahan kita
bisa berkumpul kembali.) itulah ratapan si Sulung pada adiknya dengan mata
berkaca-kaca yang di dengar oleh orang banyak. Orang yang mendengarkannyapun
penuh linangan air mata. Tidak lepas juga dari buk Yanti dan buk Wati yang akan
membawa mereka masing-masing.
Dengan
tangisan dan suara yang terseduh-seduh, si Bungsu menjawab kata-kata dari
kakaknya si Sulung.
“samanjak ayah jo mandeh tiado, nasib awak makin
sansaro, jo hibo urang awak bagantuang. Kini awak bapisah pulo, surang disinan,
ciek disiko, antah bilo masonyo awak bakumpua, , , , “ (semenjak ayah dan ibu tiada, nasib kita semakin
sengsara, dengan belas kasihan orang lain kita bergantung. Sekarang kitapun
terpisah, satu disana, satu disini, entah kapan masanya kita berkumpulkembali)
Masyarakat
yang mendengarkan dan menyaksikan sungguh terharu, tidak ada yang tidak
menangis melihat perpisahan dua kakak adik itu.
“iko maragang itu mambaok, demi maso ka datang
tapaso awak bapisah-pisah. . . .” (ini
meregangkan itu membawa, demi masa datang yang bahagia kita terpaksa
berpisah-pisah) lanjutan Sulung pada adiknya. Kedua kakak adik itu saling
berpelukan dihadapan orang banyak, hamper semua warga Linawan Ilir melihat
perpisahan itu, merekapun dirangkul oleh buk Yanti dan berkata kepada kedua
anak itu;
“kalian harus saba yo nak,,,,,,” (kalian harus sabar ya nak, , , ,)
Sebelum
berpisah, buk Piakni berbicara kepada kedua ibu-ibu yang akan membawa Sulung
dan Bungsu. Buk Piakni menyampaikan
pesan kepada mereka agar selalu merawat, menjaga dan mendidik dua kakak
adik yang haus dengan semua itu.
Buk
Piakni : “buk, kini awak nan manjadi
urang tuo dari anak-anak ko, tarimo kasih kalau memang ibu-ibu namuah
mambaoknyo. Pasan awak buk tolong jagonyo elok-elok, jan sio-sioonnyo.
Jadiinlah nyo urang nan elok dan baguno dek urang lain.” (buk, sekarang
kitalah yang menjadi orang tua dari anak-anak ini, terima kasih kalau memang
ibu-ibu mau membawa mereka. Pesan kami buk tolong jaga mereka baik-baik, jangan
sia-siakan mereka. Jadikanlah mereka orang yang berguna bagi orang lain.)
Buk
Yanti : “yo lah buk samo-samo, mohon doa
selalu. Mudah-mudahan anak-anakko dan awak basamo selalu berado dalam lindungan
Allah SWT.” (ya buk sama-sama, mohon doanya selalu. Mudah-mudahan anak-anak
ini dan kita semuanya selalu berada dalam lindnungan Allah SWT)
Buk
Wati : “awak kan menganggap Bungsu ko bak
cando anak awak surang, dakkan ado piliah kasih,” (kami akan menganggap
Bungsu ini seperti anak sendiri, tidak akan ada pilih kasih.)
Ditengah
percakapan tiga ibu itu, tiba-tiba. . .
“lung. . . hati-hati yo,,” (lung, hati-hati ya,) kata Zainal sambil memegang
pundak si Sulung
“bia kami yang manjago rumahmu lung, , , “ (biar kami yang menjaga rumahmu lung.) tambahan
si Riki pada si Sulung dan Bungsu dengan niat sedikit menghibur.
Tangisan
demi tangisan terus terjadi pada kedua anak itu, hingga akhirnya mereka
berpisah. Si Sulung dibawa oleh buk Yanti ke Lampung untuk disekolahkan
sedangkan si Bungsu dibawa oleh buk Wati ke Solok dan dimasukkan ke dalam Panti
Asuhan Yatim Piatu. Masyarakat ramai yang menyaksikan lambaian tangan kedua
anak itu semakin terseduh-seduh dan tidak dapat menahan isak tangisnya.
Akhirnya
berangkatlah si Sulung dan si Bungsu meninggalkan rumaha mereka. Sekarang
tinggallah rumah kosong di sudut Linawan Ilir, rumah kosong yang dikelilingi
oleh beberapa perpohonan tinggi yang dihiasi dengan pelantara-pelantara tempat
duduk yang biasa digunakan oleh keluarga itu jika bersantai. Rumah kosong yang
di temani oleh kandang kambing yangjuga kosong. Entah kapan rumah itu akan
seperti itu hanya waktu yang akan menjawabnya.
__________0ooooo0____________
B E R S A M B U N G . . . . . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar